Meski berlangsung di area rumah sakit, Slamet memastikan aktivitas layanan kesehatan tetap berjalan normal. Panitia telah mengatur jalur khusus untuk ambulans dan pasien.
“Kami sudah bagi jalur, ada akses khusus untuk ambulans dan pasien. Dari depan, belakang, maupun samping tetap bisa terlalui. Pelayanan rumah sakit tetap maksimal,” jelasnya.
Salah satu warga sekitar, Noor Aini, mengaku sudah terbiasa mengikuti Salat Id di lokasi tersebut karena dekat dengan tempat tinggalnya. Ia menilai perbedaan waktu Lebaran bukan menjadi persoalan.
“Bagi kami itu biasa saja. Kami punya pedoman sendiri, yang lain juga punya dasar masing-masing. Tidak perlu dipermasalahkan,” ujarnya.
BACA JUGA: Beda Rakaat Bukan Penghalang, Muhammadiyah dan NU Tarawih Bareng di Masjid Sekayu Semarang
Di tengah perbedaan penetapan hari raya, suasana tetap berlangsung khusyuk, tertib, dan penuh semangat kebersamaan.
Pelaksanaan Salat Id di ruang publik seperti halaman rumah sakit ini tidak hanya menjadi solusi keterbatasan tempat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ibadah dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas sosial lainnya. (*)
Editor: Farah Nazila





