SEMARANG, beritajateng.tv – Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijirah oleh warga Muhammadiyah di halaman parkir RS Roemani Semarang pada Jumat, 20 Maret 2026 menghadirkan potret menarik tentang toleransi di tengah perbedaan penentuan hari raya.
Ribuan jemaah memadati area parkir rumah sakit, menjadikannya ruang ibadah sekaligus simbol keterbukaan dan kebersamaan.
Bertindak sebagai imam dan khotib, Wakil Ketua Pimpinan Wilaya Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Rozihan, menegaskan bahwa perbedaan waktu Idul Fitri merupakan hal yang wajar dan justru mencerminkan kekayaan dalam Islam.
“Perbedaan itu indah. Mau Idul Fitri Jumat atau Sabtu, keduanya sama benarnya. Ibarat angka 10 bisa didapat dari berbagai cara, 5+5 benar, 7+3 benar. Karena metode yang berbeda, hasilnya juga bisa berbeda,” ujarnya usai salat.
BACA JUGA: Jelang Lebaran Jumat Mendatang, Muhammadiyah Kota Semarang Siapkan 50 Lokasi Shalat Idul Fitri
Rozihan menjelaskan, perbedaan tersebut berakar pada metode penentuan awal bulan Hijriah. Muhammadiyah menggunakan pendekatan global, sementara pemerintah masih berbasis rukyat lokal.
“Kalau Muhammadiyah menggunakan matla’ global, maka ketika ada satu negara yang sudah melihat hilal, itu menjadi dasar bersama. Ini yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa makna Idul Fitri bukan sekadar penentuan tanggal, melainkan keberhasilan spiritual setelah Ramadan yang tertandai dengan kepedulian sosial.
“Orang yang kembali suci seperti bayi itu cirinya peduli kepada sesama, lintas agama, suku, dan organisasi. Perintahnya adalah memberi, bukan mengambil,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Takmir Masjid, Slamet Widodo, mengatakan pemilihan lokasi di halaman parkir RS Roemani bertujuan agar pelaksanaan salat lebih terbuka dan mudah diakses masyarakat.
“Tahun ini kita tidak di masjid, tapi di halaman parkir rumah sakit agar lebih terbuka. Alhamdulillah, jemaah sekitar seribuan lebih dan terlihat membludak sampai ke jalan,” katanya.
Ia menyebut jumlah jemaah tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, salah satunya karena pelaksanaan Salat Id Muhammadiyah lebih dahulu.
Meski berlangsung di area rumah sakit, Slamet memastikan aktivitas layanan kesehatan tetap berjalan normal. Panitia telah mengatur jalur khusus untuk ambulans dan pasien.
“Kami sudah bagi jalur, ada akses khusus untuk ambulans dan pasien. Dari depan, belakang, maupun samping tetap bisa terlalui. Pelayanan rumah sakit tetap maksimal,” jelasnya.
Salah satu warga sekitar, Noor Aini, mengaku sudah terbiasa mengikuti Salat Id di lokasi tersebut karena dekat dengan tempat tinggalnya. Ia menilai perbedaan waktu Lebaran bukan menjadi persoalan.
“Bagi kami itu biasa saja. Kami punya pedoman sendiri, yang lain juga punya dasar masing-masing. Tidak perlu dipermasalahkan,” ujarnya.
BACA JUGA: Beda Rakaat Bukan Penghalang, Muhammadiyah dan NU Tarawih Bareng di Masjid Sekayu Semarang
Di tengah perbedaan penetapan hari raya, suasana tetap berlangsung khusyuk, tertib, dan penuh semangat kebersamaan.
Pelaksanaan Salat Id di ruang publik seperti halaman rumah sakit ini tidak hanya menjadi solusi keterbatasan tempat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ibadah dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas sosial lainnya. (*)
Editor: Farah Nazila





