Setelah menyadari bahwa musibah berasal dari cincin yang ia curi, jin melemparkannya ke laut selatan dan kembali ke wujud semula, meninggalkan Kerajaan Pulo Majeti. Sementara itu, Prabu Selang Kuning yang pergi, akhirnya menemukan cincinnya dalam perut ikan di Pantai Selatan.
Dengan kembalinya cincin tersebut, kesaktian dan kegagahan Prabu Selang Kuning pulih. Ia kembali ke Pulo Majeti, memimpin bersama Ratu Gandawati, dan kerajaan menjadi sejahtera. Sebelum pergi, raja meninggalkan wasiat pada pohon Katubaya, memberikan makna pada setiap dahan sebagai simbol ilmu, kepangkatan, kekayaan, dan kuda Sembrani.
Wasiat ini turun-temurun dan menjadi daya tarik bagi peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk ngalap berkah di Pulo Majeti. Demikianlah kisah kerajaan Pulo Majeti yang terletak di kampung Siluman Banjar. (*)





