“Ini bukan berarti anti laki-laki atau tidak mendukung UMKM yang digerakkan oleh bapak-bapak atau mas-mas. Tetapi kami perlu menyadari bahwa memang butuh dukungan khusus dan atensi khusus untuk mengangkat UMKM dengan pelaku perempuan,” tegasnya.
Ia menambahkan, ketika perempuan diberi ruang dan kesempatan untuk berkembang, dampaknya akan dirasakan secara luas.
“Karena pada nyatanya, ketika perempuan maju, semua juga maju,” ujarnya.
Terkait potensi perempuan menjadi pengusaha di Jawa Tengah, Sekar menilai peluangnya masih sangat besar. Meski tidak menyebutkan data kuantitatif, ia menekankan besarnya pasar perempuan sebagai alasan utama.
“Kalau secara kuantitatif saya tidak terlalu hafal data-datanya, tapi dari observasi saya, pasti masih banyak ruang untuk diisi oleh perempuan. Karena setengah dari pasar adalah perempuan, dan itu bagian yang sangat besar,” ungkapnya.
Menurutnya, kebutuhan perempuan yang beragam membuka ruang inovasi bagi pelaku usaha untuk menciptakan produk yang relevan dan sesuai dengan pasar.
“Perempuan memiliki berbagai macam kebutuhan yang perlu terpenuhi. Syukur-syukur pelaku usaha dengan inovasinya bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut,” katanya.
Kuliner hingga Batik, Sekar Beberkan Potensi UMKM Perempuan di Solo
Khusus di Kota Solo, Sekar menyebut sektor kuliner masih menjadi salah satu bidang usaha yang banyak perempuan geluti. Selain itu, sektor kerajinan seperti batik juga tetap memiliki peran penting secara historis.
“Solo sangat terkenal dengan kulinernya. Selain itu, secara historis juga ada batik. Dan sekarang juga ramai dengan tempat-tempat yang instagramable dan estetis, yang menjaring peluang pasar baru,” jelasnya.
Namun, ia menilai pelaku usaha lama tetap membutuhkan dukungan agar mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.
“Berbagai lini usaha yang sudah lama, seperti batik, tetap perlu dukungan supaya bisa berkembang lebih besar lagi. Yang penting adalah bagaimana pelaku usaha ini bisa menjawab tantangan kebutuhan pasar yang sering sekali berganti,” ujar Sekar.





