“Awal-awal kemarin sekitar 85 sampai 90 persen. Itu awal-awal dan nggak lama, cuma 6 hari aja. Setelah itu flat di 70-an,” kata Benk.
Menurutnya, pada pertengahan hingga akhir musim liburan sekolah ini tidak seramai di awal. Kenaikan okupansi saat ini juga tidak merata terjadi di seluruh hotel yang ada di Jawa Tengah.
Gelombang PHK masih berlangsung
Musim libur sekolah berbeda dengan musim libur lebaran atau long weekend, meskipun sama-sama memberikan kenaikan okupansi yang besar.
“Kembali flat artinya ya sisa-sisa liburan aja lah. Tidak sehedon awal-awal liburan dan tidak semua kota sama. Kalau libur lebaran dan long weekend kan semua kota sama. Nah, liburan sekolah ini tidak tidak begitu. Masih ada beberapa yang tidak seramai tempat lain gitu,” jelas Benk.
Walaupun gelombang PHK masih berlanjut, Benk mengatakan bahwa nanti para karyawan akan kembali dipanggil bekerja setelah kondisi membaik.
“Solusinya nanti kalau sudah ramai ya (karyawan) dipanggil lagi. Nggak ada solusi lain, itu sudah yang terbaik,” ujar Benk.
Berharap pemerintah daerah lebih aktif dan kreatif mengadakan event
Selain, membelanjakan anggaran untuk hotel, Benk juga berharap pemerintah khususnya daerah hadir dalam masa sulit ini. Seperti event sport atau musik yang tentu dapat membuat masyarakat luar kota untuk datang ke daerah Jawa Tengah.
“Bikin event run (lari), sport event gitu kan itu sudah lumayan membantu dan kami anggap hadir. Misalnya di Solo ada Soekarno Run, ada Mangkunegaran Run, kan itu transaksinya sudah miliaran dan pastinya memenuhi hotel,” kata Benk.
Dia berharap pemerintah bisa bekerja sama dengan PHRI untik aktif dan kreatif mengadakan event sebagai daya tarik masyarakat agar mengunjungi kota tersebut.
“Ini bagaimana kepala daerah berupaya bareng-bareng dengan PHRI mendatangkan orang ke tempatnya,” ujarnya.





