Jateng

Semarang Ingin Jadi Kota Sastra, Agustina Siapkan Writers and Readers Festival di 2027

×

Semarang Ingin Jadi Kota Sastra, Agustina Siapkan Writers and Readers Festival di 2027

Sebarkan artikel ini
Semarang Ingin Jadi Kota Sastra, Agustina Siapkan Writers and Readers Festival di 2027
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng berbincang dengan sastrawan dan penyair Semarang. (Doc. Pemkot Semarang)

Dengan konsep tersebut, warga yang biasanya datang ke Kota Lama atau Lawang Sewu untuk berwisata juga berkesempatan menikmati pembacaan puisi, bertemu penulis, hingga mengikuti diskusi literasi.

Agustina mendorong Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta organisasi perangkat daerah lainnya.

Kolaborasi itu penting agar festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menggerakkan komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan sektor pariwisata.

Khawatir Regenerasi Sastrawan Terputus

Di balik rencana festival tersebut, Agustina juga menyoroti persoalan regenerasi sastrawan. Ia tidak ingin kehidupan sastra di Semarang hanya bergantung pada para penulis dan penyair senior tanpa muncul generasi penerus yang memiliki ruang untuk berkembang.

Menurutnya, kemampuan menjadi penulis atau penyair tidak terbentuk secara instan. Seseorang perlu melalui proses panjang dengan membaca banyak karya, memahami pemikiran sastrawan terdahulu, menyaksikan pertunjukan, serta terlibat langsung dalam kegiatan kesenian.

Karena itu, pertemuan antara sastrawan senior dan generasi muda perlu terus dbangun. Pemerintah harus membuka ruang agar pengalaman dan pengetahuan para pelaku sastra dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Agustina juga mengingatkan bahwa puisi memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar permainan kata dan keindahan bahasa. Sastra dapat menjadi sarana menyampaikan kritik, merekam persoalan kehidupan, hingga membangun kesadaran sosial.

Ia menyinggung panggung-panggung puisi pada era 1995–1996 yang pernah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap kekuasaan.

“Puisi bisa berfungsi sebagai upaya untuk menyuarakan aspirasi, merefleksikan kehidupan dan menumbuhkan kesadaran sosial,” tuturnya.

Penyandang Disabilitas Harus Punya Panggung

Selain menghidupkan ekosistem sastra, Agustina ingin festival dan kegiatan kebudayaan di Semarang memberikan ruang yang setara bagi seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas.

Ia mengapresiasi keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan Semarang Berpuisi. Menurutnya, kemampuan berkesenian tidak boleh dibatasi oleh kondisi fisik maupun latar belakang seseorang.

Agustina berharap program Rumah Inspirasi yang mulai disosialisasikan di tingkat kecamatan dapat membuka kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan bakat dan kreativitas.