SEMARANG, beritajateng.tv – Persoalan banjir bukanlah cerita baru bagi Kota Semarang. Jauh sebelum pembangunan infrastruktur pengendali banjir, ibu kota Jawa Tengah ini telah berkali-kali menghadapi terjangan banjir bandang yang menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Salah satu saksi bisu dari rangkaian tragedi tersebut adalah monumen banjir bandang yang berdiri di kawasan Bendung Simongan.
Monumen sederhana bercat kuning dan biru itu sekilas tampak biasa. Namun, di balik tampilannya, monumen tersebut menyimpan rekam jejak kelam bencana banjir bandang yang pernah melanda Semarang. Pada permukaannya tertera sejumlah penanda tahun kejadian banjir besar, meski kini hanya dua tanggal yang masih dapat terbaca jelas, yakni 10 Januari 1963 dan 28 Maret 1992.
Padahal, berdasarkan catatan sejarah, banjir bandang di Semarang tercatat terjadi setidaknya lima kali, yaitu pada 28 Maret 1922, 10 Januari 1963, 22 Januari 1976, 26 Januari 1990, dan 25 Desember 2006. Dari seluruh peristiwa tersebut, banjir bandang tahun 1990 dikenang sebagai tragedi paling mematikan.
Operator Bendung Simongan, Danang Wahyu, mengatakan hanya ada tiga banjir bandang besar yang paling sering disebut dalam sejarah aliran Kali Semarang, yakni peristiwa tahun 1922, 1963, dan 1990. Namun, kejadian pada 1990 disebut meninggalkan dampak paling serius.
BACA JUGA: Banjir dan Genangan Air Picu Lonjakan Penyakit Anak, IDAI Ingatkan Risiko Leptospirosis hingga Dengue
“Yang paling parah itu tahun 1990 di wilayah Sampangan. Ada satu pabrik terkunci, terendam banjir bandang, dan seluruh pekerjanya meninggal dunia,” ujar Danang pada Jumat, 6 Februari 2026.
Menurutnya, banjir bandang di Semarang umumnya lantaran tingginya debit air dari wilayah hulu yang mengalir deras ke pusat kota. Kondisi tersebut membuat kawasan di sepanjang Kali Semarang sangat rentan terdampak air bah, terutama saat hujan lebat berlangsung lama.





