Situasi tersebut kini perlahan berubah sejak adanya Waduk Jatibarang. Waduk ini berperan sebagai penampung air kiriman dari hulu sebelum mengalirkannya ke sungai, sehingga mampu menekan risiko banjir bandang seperti yang terjadi di masa lalu.
“Air dari hulu sekarang kami tampung dulu di Waduk Jatibarang. Kedalamannya sekitar 200 meter. Kalau sudah melewati ambang batas aman, baru alirkan secara bertahap,” jelas Danang.
Ia menambahkan, kondisi muka air di Bendung Simongan dalam sebulan terakhir masih berada di level aman, yakni sekitar 100 sentimeter. Sepanjang tahun lalu, ketinggian maksimal tercatat mencapai 210 sentimeter dan berstatus siaga.
Monumen Simongan Pengingat Sejarah Kelam Banjir Bandang di Semarang
Pemerhati sejarah Kota Semarang, Johanes Chistiono, menilai keberadaan monumen banjir bandang di Simongan penting sebagai pengingat sejarah sekaligus peringatan bagi generasi sekarang. Menurutnya, banjir bandang 1990 bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi warga.
“Dari data resmi, korban jiwa tercatat 197 orang. Namun besar kemungkinan jumlah sebenarnya lebih dari itu, bahkan bisa melampaui 200 korban,” kata Johanes.
Ia menjelaskan, banjir bandang 1990 terjadi akibat meluapnya Kali Garang dan Kali Kreo di kawasan sekitar Tugu Soeharto. Air bah datang secara tiba-tiba pada dini hari dengan ketinggian mencapai 3 hingga 5 meter.
BACA JUGA: Lahan Sawah di Jateng Terdampak Banjir, Komisi B Ajukan Bantuan Bibit ke Kementan RI
Sejumlah wilayah seperti Sampangan, Simongan, Jalan Kelud, hingga bantaran Banjir Kanal Barat di sekitar Pasar Bulu terendam parah. Bahkan, pada waktu yang bersamaan, Banjir Kanal Timur juga terlapor meluap.
Tragedi banjir bandang 1990 menjadi pengingat bahwa persoalan banjir di Semarang bukan sekadar masalah musiman, melainkan ancaman serius yang membutuhkan pengelolaan lingkungan dan sistem pengendalian air secara berkelanjutan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





