Gaya Hidup

Sensasi Naik Bajaj Keliling Semarang, Menikmati Angin Sore di Simpang Lima hingga Kota Lama

×

Sensasi Naik Bajaj Keliling Semarang, Menikmati Angin Sore di Simpang Lima hingga Kota Lama

Sebarkan artikel ini
Semarang Bajaj semarang
Menikmati suasana Kota Semarang sore hari saat naik bajaj. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Menikmati sore di Kota Semarang kini bisa dilakukan dengan cara yang lebih unik. Bukan sekadar naik motor atau mobil pribadi, pengalaman berkeliling ibu kota Jawa Tengah ini bisa semakin berkesan dengan menaiki bajaj, transportasi roda tiga yang kini hadir di Kota Atlas.

Konsep bajaj di Semarang ini mirip dengan kendaraan ikonik di Jakarta, namun dengan nuansa berbeda. Penumpang bisa merasakan semilir angin sore saat bajaj melaju menyusuri jalanan.

Rutenya pun bisa berkeliling melewati ikon-ikon kota, mulai dari kawasan Simpang Lima yang ramai, Tugu Muda yang bersejarah, hingga bangunan-bangunan klasik di Kota Lama yang semakin hidup saat senja menjelang.

Suasana Kota Semarang dari Kursi Bajaj

Perjalanan dengan bajaj memberi pengalaman berbeda. Dari kursi terbuka, penumpang bisa menyaksikan hiruk pikuk Simpang Lima yang menjadi pusat keramaian.

Lalu berlanjut ke Tugu Muda, monumen perjuangan yang berdiri gagah di tengah lalu lintas kota. Tak kalah menarik, saat bajaj memasuki kawasan Kota Lama, nuansa klasik Eropa langsung terasa dengan bangunan tua yang disinari cahaya sore.

Suasana romantis dan santai ini membuat bajaj cocok dijadikan transportasi alternatif untuk wisata singkat maupun sekadar jalan-jalan sore bersama teman.

Saat ini jumlah bajaj di Semarang masih sangat terbatas, hanya sekitar 20 unit. Hal ini membuat penumpang kadang kesulitan mendapatkannya, terutama di malam hari.

Meski begitu, kehadiran bajaj sudah cukup menarik minat masyarakat, terutama generasi muda yang gemar mencari pengalaman baru sekaligus konten untuk media sosial.

Dengan konsep sederhana, murah, dan ramah lingkungan, bajaj berpotensi menjadi daya tarik baru bagi wisata kota Semarang. Terlebih, jalur ikonik seperti Simpang Lima, Tugu Muda, dan Kota Lama memang menawarkan panorama kota yang tak pernah membosankan.

Cerita Supir Bajaj di Semarang

Adi Saputra (37), salah satu pengemudi bajaj asal Pedurungan, menceritakan pengalamannya menarik penumpang sejak tiga hari terakhir. Adi sendiri menjadikan pekerjaan ini sebagai sampingan setelah bekerja di bidang elektronik pada pagi hari.

“Saya biasanya mangkal di Semarang Timur. Kalau di pusat kota sudah banyak bajaj. Sehari narik dari jam 11 siang sampai jam 9 malam, rata-rata dapat Rp285 ribu. Setor ke kantor Rp25 ribu. Kalau rame biasanya sore, sekitar jam 6,” ungkapnya sambil mengendarai bajaj.

Menariknya, bajaj di Semarang tidak hanya bisa dipesan lewat aplikasi, tetapi juga secara offline dengan kesepakatan jarak. Kendaraan ini menggunakan konsep mirip vespa dengan gigi di tangan kiri, sehingga memberi kesan retro yang unik.

“Rata-rata penumpang anak muda. Mereka suka karena bisa foto-foto juga, suasananya beda,” lanjutnya.

Ainun salah satu penumpang mengungkapkan bahwa naik bajaj di Semarang merupakan pengalaman baru untuknya.

“Kalau sore itu rasanya pas. Anginnya sejuk, suasananya syahdu. Biasanya orang lebih suka malam, tapi sore hari juga asyik karena bisa lihat kota masih terang,” katanya usai naik bajaj. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp