“Ketika kita berbicara mengenai kota masa depan, kita tidak hanya berbicara tentang teknologi atau infrastruktur. Kita juga perlu melihat bagaimana manusia akan hidup, berinteraksi, berkarya, dan membangun komunitas di dalamnya,” ujar Fredy.
SEWUNARA menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif tersebut. Festival yang dirangkai Program Desain Komunikasi Visual (DKV) BINUS @Semarang itu didukung Program Teknik Industri dan Ilmu Komputer.
Festival tersebut juga bekerja sama dengan AIDIA (Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia), pemerintah, serta Komite Ekonomi Kreatif Kota Semarang.
Sementara Semarang IP Summit memperkuat pembahasan dari sisi intellectual property. Forum ini mempertemukan pelaku komik, animasi, ilustrasi, game dan industri kreatif digital.
Rangkaian acara meliputi twin class, workshop, art and design exhibition, IP Expo & Exhibition, business conference, talkshow and congress, industry insight, comic launching, performance art hingga immersive exhibition.
Jadi Ruang Dialog Pelaku Kreatif
Head of Visual Communication Design BINUS @Semarang, Noor Udin atau Pak Ung, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi ruang dialog bagi kreator IP, desainer profesional, akademisi, mahasiswa, masyarakat kreatif dan pemangku kepentingan.
Menurut dia, berbagai perubahan akibat teknologi harus direspons dengan tetap mempertahankan nilai kemanusiaan.
Kolaborasi tersebut mencoba mempertemukan empati, gagasan, kreativitas dan teknologi agar perkembangan industri kreatif tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pembukaan pada 26 September 2026 menghadirkan sejumlah tokoh dari pemerintah, industri kreatif, akademisi dan komunitas. Agenda tersebut juga dilanjutkan dengan Business Conference serta sesi yang membahas strategi IP dari perspektif publisher dan investor.
Melalui SEWUNARA x Semarang IP Summit, Semarang tidak hanya menjadi tempat pamer karya. Kota ini juga menjadi ruang pertemuan bagi gagasan kreatif, teknologi dan intellectual property. (*)





