Dalam beberapa bulan terakhir, Lawang Sewu rutin memfasilitasi umat beragama untuk melaksanakan perayaan hari besar seperti shalat Idul fitri, misa kenaikan Yesus Kristus dan shalat Idul Adha.
“Ini sudah kesekian kalinya tempat wisata Lawang Sewu menjadi lokasi kegiatan keagamaan. Sebelumnya pernah untuk shalat Idul Fitri dan perayaan keagamaan lainnya seperti Kenaikan Isa Almasih,” jelas Anton.
Ia menegaskan bahwa Lawang Sewu akan terus buka sebagai ruang publik yang inklusif untuk semua keyakinan.
Anton ingin menjadikan Lawang Sewu bukan sekadar pengingat bahwa tempat bersejarah bukan hanya sebagai saksi bisu masa lalu. Tapi juga ruang hidup yang terus berdenyut dengan semangat baru.
“Kami terbuka untuk semua kegiatan keagamaan, bukan hanya satu agama saja. Masyarakat silakan manfaatkan fasilitas yang ada, selama dilakukan dengan tertib dan saling menghargai,” tandas Anton.
Pagi itu, Lawang Sewu membuktikan bahwa nilai sejarah dan spiritual bisa berjalan beriringan dan menyatukan generasi muda, warga lokal, dan pengelola dalam satu barisan, satu sujud dan satu rasa syukur. (*)
Editor: Elly Amaliyah





