SEMARANG, beritajateng.tv – Timnas AMIN menyoroti fakta bahwa beberapa negara pernah membatalkan hasil Pemilu karena ada kecurangan dalam penyelenggaraannya.
Salah satu kuasa hukum Timnas AMIN, Bambang Widjojanto, mengungkap hal tersebut saat membacakan permohonan perselisihan hasil Pemilu / Pilpres 2024 (PHPU) dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu, 27 Maret 2024.
Bambang menjelaskan bahwa pada dasarnya, praktik hukum Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung di beberapa negara di dunia memiliki dasar yang sama.
BACA JUGA: Tunggu Investigasi Kecurangan Pemilu, Timnas AMIN Jateng Buka Peluang Gandeng TPN Ganjar-Mahfud
“MK memiliki kewenangan untuk menegakkan keadilan, bukan hanya sekadar penegakan hukum. Mereka menegakkan hak konstitusional serta HAM serta memastikan safeguard of democracy, bukan sekadar menyelesaikan sengketa hasil suara,” ujar Bambang.
“Oleh karena itu, MK pastinya akan membatalkan hasil pemilihan yang terjadi karena penyalahgunaan wewenang presiden, kekuasaan, penyelenggara Pemilu, serta pelanggaran dan kecurangan yang serius dalam proses Pemilu dan Pilpres,” imbuhnya.
Timnas AMIN ungkap 4 negara dengan hasil Pemilu pernah batal
Lebih lanjut, Bambang mengungkap ada 4 negara dengan hasil Pemilu pernah MA maupun MK batalkan.
1. Austria
Bambang mengungkapkan bahwa pada tahun 2016 lalu, MK Austria membatalkan Alexander Van der Bellen yang terpilih sebagai presiden lantaran terbukti ada kecurangan.
“Hal ini terjadi karena ada pengiriman surat melalui pos yang dilakukan oleh pendukung Alexander, sehingga terjadi manipulasi yang signifikan,” tutur Bambang.
2. Kenya
Pada tahun 2017 lalu, MA Kenya membatalkan terpilihnya presiden petahana Uhuru Kenyatta. Hal ini karena pemerintah pusat terbukti memadamkan listrik di wilayah pendukung sang lawan, Odinga. Pasalnya, pemadaman listrik itu berlangsung pada hari pemungutan suara.




