Politik

Soal Film Dirty Vote Gagal Bendung Suara Prabowo-Gibran, Dandhy: Lawannya Bansos 508 T, Partai, Influencer, sampai Buzzer

×

Soal Film Dirty Vote Gagal Bendung Suara Prabowo-Gibran, Dandhy: Lawannya Bansos 508 T, Partai, Influencer, sampai Buzzer

Sebarkan artikel ini
Pemilu 2024
Dirty Vote film dokumenter menjelang Pemilu 2024. (Foto: Instagram/@dandhy_laksono)

SEMARANG, beritajateng.tv – Film dokumenter berjudul Dirty Vote garapan Dandhy Laksono mendapat anggapan tidak bisa membendung dukungan terhadap pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka.

Pasalnya, berdasarkan quick count dan real count, hasil pemungutan suara Prabowo – Gibran menunjukkan perolehan yang tinggi. Meninggalkan dua pasangan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Dandhy tak mau ambil pusing. Menurutnya, film garapannya hanyalah sebatas karya kreatif. Yang tentunya tidak bisa menandingi mesin politik.

Bahkan, ia menganggap bahwa publik memperhitungkan apakah filmnya mampu membuat suatu paslon kalah saja sudah merupakan sebuah pujian baginya.

“Jadi kalau ada orang yang berpikir filmnya nggak ngaruh itu sudah pujian buat saya, keren banget sampai film orang anggap punya pengaruh ngalahin Rp 508 T bansos, ngalahin partai yang punya 20 persen presidential threshold, ngalahin influencer, buzzer, dan konsultan politik,” ungkapnya saat berdiskusi film garapannya dalam Aksi Kamisan Semarang di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Kamis, 22 Februari 2024, malam.

BACA JUGA: Ramai Hak Angket Usut Kecurangan Pemilu, Ganjar Beberkan Rencana Politik Jangka Pendeknya

Dandhy menekankan, anggapan bahwa film garapannya gagal merupakan pujian terbesar yang bisa ia terima. Sebab, menurutnya, mustahil film berdurasi 2 jam mampu melawan kekuatan lembaga survei, partai, hingga bansos.

Bahkan, pernyataan bahwa film garapannya gagal, ia anggap seolah-olah mengalahkan penghargaan film bergengsi dunia, Piala Oscar.

“Bahkan dianggap gagal aja udah pujian terbesar yang bisa saya terima mengalahkan Oscar. Ini (hanya) film lho, diomongin seolah-olah bisa mengubah jalannya politik kekuasaan,” imbuhnya.

Diskusi Dirty Vote terus berlanjut meski Pemilu selesai

Meski hari pemungutan suara Pemilu telah selesai, namun berbagai agenda berdiskusi film yang sempat viral ini masih terselenggara di berbagai daerah. Tak terkecuali di Kota Semarang.

Antusiasme pada tiap acaranya juga membludak. Hal itu tentu merupakan kabar gembira bagi Dandhy.

Menurutnya, banyaknya nonton bareng (nobar) dan diskusi bahkan setelah Pemilu membuktikan tak sedikit masyarakat yang menolak hasutan bahwa film buatannya hanya untuk kepentingan elektoral.

Berkaca dari kesuksesan film Sexy Killers tahun 2019 lalu, kata Dandhy, meski Pemilu telah berakhir, jumlah penonton film itu malah terus tumbuh. Dari 7 juta hingga kini mencapai 37 juta.

“Artinya ada 30 juta viewer yang rasional dan menganggap film ini tidak ada kaitan dengan Pemilu dan mungkin hanya sedikit orang yang berusaha membuat propaganda bahwa Sexy Killer adalah film politik tentang Pemilu,” katanya.

BACA JUGA: Tanggapi Soal Hak Angket untuk Selidiki Kecurangan Pilpres, Gibran: Matur Nuwun, Pak Ganjar

Demikian pula dengan film yang sempat viral tersebut. Dandhy percaya jumlah penonton film tersebut akan terus bertambah hingga 5 sampai 10 tahun kedepan. Walaupun mendapat anggapan sebagai film yang mendiskreditkan salah satu paslon.

“Dan film ini mudah-mudahan menjadi momok bagi siapapun yang terpikir untuk mengulang kecurangan yang sama,” pungkasnya.(*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp