Jateng

Soroti Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Pelita Semarang: Banyak Terjadi di Lingkup Agama

×

Soroti Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Pelita Semarang: Banyak Terjadi di Lingkup Agama

Sebarkan artikel ini
Pelita Semarang
Setyawan Budy, Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang mendorong keterlibatan jaringan perempuan lintas agama dan kepercayaan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya yang menjadi korban kekerasan. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatan Pelita dalam peringatan 41 tahun ratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW).

Koordinator Pelita Semarang, Setyawan Budy, menyatakan bahwa selama ini keterlibatan perempuan dari komunitas lintas iman dalam isu-isu perempuan masih sangat minim.

“Untuk peringatan 41 tahun CEDAW kali ini, kami dari Pelita mengusulkan untuk menggandeng teman-teman dari jaringan perempuan lintas agama dan kepercayaan. Harapannya, kepedulian terhadap perempuan, terutama korban kekerasan, bisa tumbuh dari masing-masing organisasi,” jelasnya pada Rabu, 23 Juli 2025 malam.

BACA JUGA: 41 Tahun Ratifikasi CEDAW, Doa Lintas Iman Hingga Desak Negara Lindungi Korban Kekerasan Seksual

Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya seremoni, melainkan bagian dari upaya edukasi dan advokasi berkelanjutan.

“CEDAW bahkan mungkin baru dikenal oleh sebagian dari mereka. Maka ini adalah momen penting. Kami berharap kegiatan ini bisa berlanjut, masuk ke tempat-tempat ibadah, seperti pura, gereja, vihara, pondok pesantren, hingga sanggar penghayat kepercayaan,” lanjutnya.

Pelita Semarang: Kasus kekerasan seksual sering terjadi di lingkungan agama

Selain itu, Setyawan juga menyoroti kenyataan pahit bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sering terjadi di lingkungan keagamaan.

“Kami prihatin, karena tidak sedikit kasus pelecehan atau kekerasan seksual justru terjadi di lingkup agama, yang melakukan oknum-oknum tokoh agama tertentu. Ini sangat menyedihkan dan tidak bisa kita biarkan,” ujarnya.

Acara yang berlangsung di Pura Agung Giri Natha Semarang itu menurut Setyawan merupakan tindak lanjut dari pertemuan serupa dua tahun lalu di Vihara Tanah Putih.

“Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Ini menjadi simbol keterbukaan antar umat beragama dan pentingnya ruang ibadah sebagai tempat edukasi dan refleksi atas isu perempuan,” katanya.

BACA JUGA: Kasus Kekerasan Seksual Terus Meningkat, PKBI Jateng Edukasi Remaja Lewat Program ‘Health Rangers’

Sebagai puncak acara, berlangsung pembacaan pernyataan sikap bersama dari seluruh organisasi perempuan lintas agama dan kepercayaan yang hadir.

Pernyataan itu tertuju kepada negara dan lembaga-lembaga terkait sebagai bentuk desakan agar menindak kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan secara serius.

“Kami ingin ini menjadi perhatian khusus bagi negara. Masih banyak kasus yang belum terungkap atau tidak terselesaikan. Maka dari sini kami ingin memberikan dorongan, bahkan sentuhan, kepada para pemangku kebijakan,” tandas Setyawan. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp