Headline

Stempel Hoaks dan Iklan Digital Programatik Mengandung Konten Palsu Disorot

×

Stempel Hoaks dan Iklan Digital Programatik Mengandung Konten Palsu Disorot

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (istimewa)

“Saat ini di newsroom kami hanya ada tujuh orang, jadi nanti ke depan, harapannya bisa lebih banyak (sumber daya),” ujar Fritz yang berencana menggelar pelatihan ke kampus-kampus agar bisa menjaring pengecek fakta potensial di wilayahnya.

Kolaborasi pengecek fakta yang tergabung di Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dengan Radio KBR memilih format suara dalam pembongkaran hoaks. Konten mereka itu ditayangkan setiap Senin dengan durasi 15 menit lewat siniar (podcast). Konten yang sama juga disiarkan secara daring via laman KBR.ID. “Saat ini sudah ada 173 episode, setiap episode membahas lima hoaks,” kata Wydia dari KBR.

Pemilihan lima hoaks itu berdasarkan ranking hoaks yang paling riuh dari temuan Mafindo. Aribowo memaparkan, kerjasama yang terjalin pasca Media Summit 2018 silam itu mulanya menggunakan format siaran namun semenjak pandemi berubah format karena pembatasan interaksi secara langsung dengan pengecek fakta di KBR.

“Kami ambil lima hoaks dengan engagement tertinggi dari pantauan Mafindo karena itu yang engagement-nya tertinggi, berarti jadi sorotan masyarakat,” imbuh Wydia.

Berdasarkan pengalamannya, konten bernada negatif dan berkaitan dengan isu politik merupakan yang paling sering muncul untuk dibahas dalam siniar Cek Fakta yang dikelola KBR.

“Konten yang diplintir itu lebih sulit untuk dijelaskan karena terkadang publik menganggap foto atau videonya tidak dimodifikasi,” terang Aribowo.

Guna mensosialisasikan pentingnya menghentikan penyebaran hoaks, Aribowo dan Wydia memilih menyematkan jargon-jargon yang mudah diingat lewat siniar dan siaran. Misalnya, semboyan sharing yang penting bukan yang penting sharing, care with what you share. “Yang paling sering juga jaga emosi, tahan jari, verifikasi sebelum dibagi,” tambah Aribowo.

Dokter spesialis penyakit dalam, Adaninggar Prima Nariswari tergerak membuat konten cek fakta karena dirinya merasa semasa pandemi kerap beredar informasi yang menyesatkan di berbagai media sosial. Konten-konten menyesatkan itu semakin viral jika pesannya disampaikan oleh pejabat publik atau public figure. “Saya memilih buat meluruskan dari lingkungan terdekat dulu,” kata Adaninggar.