“Banyak yang membeli mobil, membangun rumah besar, atau memenuhi keinginan-keinginan konsumtif lainnya. Ketika uangnya habis, mereka tidak lagi memiliki lahan untuk digarap dan tidak berhasil memperoleh pekerjaan baru. Akhirnya kehidupan mereka justru lebih sulit daripada sebelumnya,” ungkapnya.
Karena itu, Sumanto berharap masyarakat tidak mudah tergoda menjual tanah warisan, terlebih jika lahan tersebut masih produktif. Menurutnya, mempertahankan lahan pertanian berarti menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga. Dengan perkembangan teknologi, pertanian kini pengelolaannya bisa lebih modern, efisien, dan memberikan dukungan pada ketahanan pangan daerah.
BACA JUGA: Sejumlah Daerah Mulai Krisis Air, Sumanto Minta Pemprov Jateng Antisipasi Dampak Kemarau
Ia juga mengajak generasi muda untuk mulai melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki masa depan. Pemerintah juga perlu memberi petrhatian lebih ke sektor pertanian agar bisa lebih menguntungkan. Jika bertani menguntungkan, lanjutnya, anak-anak muda akan dengan sukarela menjadi petani.
“Petani adalah profesi yang sangat mulia karena menghasilkan pangan untuk masyarakat. Kita membutuhkan generasi muda yang mau meneruskan perjuangan para petani agar lahan pertanian tetap produktif dan ketahanan pangan tetap terjaga,” tegasnya.
Melalui kegiatan Temu Tani tersebut, Sumanto berharap tumbuh kesadaran bersama bahwa lahan pertanian bukan hanya warisan keluarga, tetapi juga investasi jangka panjang. Menurutnya, mempertahankan sawah berarti menjaga sumber kehidupan, membuka peluang ekonomi bagi generasi berikutnya, sekaligus memastikan sektor pertanian tetap menjadi penopang kesejahteraan masyarakat di masa depan. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





