Bahkan ada pemasok yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp 7 juta. Setelah daging satu ekor sapai yang sudah ia belinya tidak terbeli.
Lebih lanjut, Apriyatun menambahkan, di Kota Salatiga saat ini ada lebih dari 100 pedagang dan penjual yang bernaung di dalam paguyuban.
Karena harganya terus naik, para semuanya merasakan keresahan yang sama. mengaku resah. Namun ia menekankan apa yang mereka lakukan bukan demo.
Namun karena para penjual tidak mau merugi terus menerus. Sehingga para penjual daging sapi ini juga mengharapkan peran pemerintah.
“Harapan kami pemerintah bisa tirun tangan untuk menekan harga daging sapi. Sehingga harga komoditas ini bisa kembali stabil di tingkat pasar,” tandasnya.
Kabid Pasar Dinas Perdagangan Buka Suara
Menanggapi hal ini, Kabid Pasar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Salatiga, Bagus Arifianto bisa memahami keresahan para penjual daging sapi.
Akibat sikap para penjual daging sapi, di los daging Pasar Raya Kota Salatiga terpantau lengang tidak seperti aktivitas biasanya.
BACA JUGA: Kliwon Sapi Jumbo Pilihan Presiden Prabowo untuk Warga Muktiharjo Kidul Semarang, Bobotnya 1,1 Ton!
Terkait dengan kelangkaan seperti keluhan para penjual, Bagus juga mengaku akan berkoordinasi dengan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Salatiga
“Akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan Dinas Pangan dan Pertanian, karena kebijakan yang akan di ambil nantinya seperti apa, juga bukan wilayah kami,” jelasnya.
Sementara itu, Yanti (38) salah satu warga Kota Salatiga mengungkapkan, tidak mengetahui para penjual daging sapi di Pasar Raya ‘mogok’ berjualan.
“Niatnya mau berbelanja daging sapi, ternyata di los daging suasananya sepi. Tidak ada penjual daging sapi, kecuali penjual daging ayam,” ungkapnya. (*)
Editor: Farah Nazila





