Jateng

Tanah Semarang-Demak Ambles Hingga 16 Cm per Tahun, Bappeda: Giant Sea Wall Bakal Selamatkan Pantura Jateng

×

Tanah Semarang-Demak Ambles Hingga 16 Cm per Tahun, Bappeda: Giant Sea Wall Bakal Selamatkan Pantura Jateng

Sebarkan artikel ini
Tanah Pantura
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah, Yusmanto, saat dijumpai di Kantor Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Jumat, 17 Juli 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Laju penurunan muka tanah di wilayah Pantai Utara (Pantura) semakin mengkhawatirkan. Di Kabupaten Demak dan Kota Pekalongan, penurunan tanah bahkan mencapai sekitar 16 sentimeter per tahun, sementara di Kota Semarang rata-rata mencapai 12 sentimeter per tahun.

Kondisi tersebut ԁiperparah dengan kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim. Akibatnya, kawasan Pantura yang selama ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah kini menghadapi ancaman rob yang bersifat permanen.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah, Yusmanto, mengatakan penanganan persoalan tersebut tidak lagi cukup hanya mengandalkan penanaman mangrove.

Kini, pemerintah menyiapkan berbagai solusi. Mulai dari pembangunan tanggul laut hybrid hingga giant sea wall atau tanggul laut raksasa yang tengah ԁikaji pemerintah pusat.

“Pantai Utara Jawa ini karena dampak perubahan iklim, yang semula baik-baik saja, kemudian menjadi bencana yang permanen. Ada dua penyebabnya, yaitu penurunan muka tanah dan naiknya permukaan air laut,” ujar Yusmanto saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Jumat, 17 Juli 2026.

Yusmanto menuturkan, penurunan muka tanah di sepanjang Pantura terjadi dengan tingkatan yang berbeda-beda. Ia mengatakan, penurunan muka tanah tersebut terjadi bersamaan dengan naiknya permukaan air laut sehingga memperparah kondisi rob di kawasan Pantura.

“Kalau di Kota Semarang berkisar rata-rata 12 sentimeter per tahun. Kalau Demak mungkin lebih dalam lagi sampai 16 sentimeter, kemudian Pekalongan kurang lebih sampai 16 sentimeter juga. Sehingga tanahnya ambles, lautnya naik,” imbuh Yusmanto.

Hampir seluruh wilayah Pantura Jawa Tengah terdampak fenomena tersebut. Namun, kata ԁia, titik terparah ada di Semarang dan Demak.

BACA JUGA: Mediasi Sengketa Lahan di Blora Memanas, BPN Putuskan Ukur Ulang Batas Tanah

“Kalau kita lihat di Pantai Utara ini dari Brebes sampai Rembang, aslinya semuanya kena. Cuma yang paling parah ya titik-titik tadi, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Demak,” jelasnya.