Isu bahwa polisi asal tangkap ratusan pelajar dan mahasiswa pun turut Artanto bantah. Ia menegaskan, ratusan pelajar dan mahasiswa yang tertangkap sudah pasti berada di lokasi kericuhan.
“Ya, namanya orang yang ketangkap pelaku anarkis, alasannya pasti banyak. Alasannya saya hanya lewat, saya hanya nonton. Namanya sudah melakukan anarkis, tidak mungkin dia hanya lewat dan sebagainya. Pasti melakukan,” ucapnya.
Ia memastikan pihaknya penangkapan di lapangan yang melihat langsung tindakan anarkis tersebut.
“Mereka ini semua adalah tertangkap tangan. Tertangkap pada saat melakukan pelemparan, pada saat melakukan perusakan, pada saat melakukan kegiatan tindak pidana sehingga ada bukti, ada saksi, dan lengkap. Penyidik sekarang mendalami siapa yang betul-betul pelaku, siapa provokator, dan siapa penggerak,” tegasnya.
Usia termuda pelajar yang tertangkap 13 tahun, perkiraan masih kelas 6 SD
Selama pemeriksaan, polisi menemukan salah satu pelajar yang tertangkap masih berusia 13 tahun. Anak itu disebut masih duduk di bangku sekolah dasar atau kelas 1 SMP.
“Yang paling muda umur 13 tahun, masih kecil sekali,” kata Artanto.
Lebih lanjut, Artanto menyebut ratusan orang yang polisi tangkap itu bukan hanya berasal dari Kota Semarang, namun juga dari daerah lain seperti Pati, Grobogan, dan Kendal.
“Ini campuran. Ada warga Kota Semarang, ada luar Kota Semarang,” imbuhnya.
Terkait dugaan adanya aktor penggerak di balik kericuhan, Artanto menyatakan penyidik masih melakukan pendalaman.
“Siapa penggerak, siapa kooperator, siapa di belakang semua. Ini masih dalam pendalaman dari penyidikan,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





