Zulhas menambahkan, keberhasilan MBG tidak bisa terlepaskan dari perbaikan kebijakan pangan secara keseluruhan. Ia mencontohkan, dalam satu tahun terakhir Indonesia berhasil beralih dari negara pengimpor menjadi surplus pangan. Pada 2024, Indonesia masih mencatat impor sebesar Rp242 juta, sementara tahun ini berbalik surplus Rp4 juta.
“Ini bukan omon-omon, bukan hoaks. Datanya dari BPS. Nilai tukar petani naik dari 116 menjadi 122,” kata Zulhas.
BACA JUGA: Sumber Air Belum Layak, Sejumlah Dapur MBG di Semarang Terkendala Raih Sertifikat SLHS
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap pengawasan program pangan dan MBG. Ia diperintahkan rutin turun ke lapangan beberapa hari dalam sepekan untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai target dan tepat sasaran.
Zulhas optimistis, jika MBG dan ekosistem pendukungnya berjalan optimal, pemerintah mampu menekan angka kemiskinan hingga 30 persen, terutama di kalangan petani, peternak, dan nelayan yang selama ini menjadi kelompok paling tertinggal. “Ini bukan sekadar bantuan. Ini memberi kail, memberi kehormatan dan kebanggaan kepada rakyat,” ujarnya.
Selain MBG, pemerintah akan memfokuskan kebijakan pangan pada pemenuhan protein nasional. Salah satu langkahnya dengan membangun kawasan pangan protein seluas 20.000 hektare di Pulau Jawa serta mendirikan 2.000 kampung nelayan. (*)
Editor: Farah Nazila





