Otomotif

Tekan Pengeluaran hingga 77 Persen, Teknologi PHEV Jadi Jembatan Menuju Mobil Listrik

×

Tekan Pengeluaran hingga 77 Persen, Teknologi PHEV Jadi Jembatan Menuju Mobil Listrik

Sebarkan artikel ini
Tekan Pengeluaran hingga 77 Persen, Teknologi PHEV Jadi Jembatan Menuju Mobil Listrik
Dual Mode Technology BYD Gabungkan Motor Listrik dan Mesin Bensin dalam Satu Sistem Cerdas dan makin efisien, yang berada di even BYD Tech Culture Fest Semarang. (Steve Arie/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ketidakpastian harga bahan bakar minyak (BBM) terus menjadi perhatian para pemilik kendaraan di Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat mulai melirik teknologi kendaraan yang mampu menekan biaya operasional tanpa mengorbankan kenyamanan maupun fleksibilitas berkendara.

Salah satu teknologi yang kini semakin mendapat perhatian adalah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang menggabungkan tenaga listrik dan mesin bensin untuk mobil.

Kendaraan ini menggabungkan tenaga listrik dan mesin bensin dalam satu sistem, sehingga menawarkan efisiensi lebih tinggi daripada mobil konvensional.

Bagi sebagian masyarakat, beralih langsung ke kendaraan listrik murni masih menyisakan sejumlah pertimbangan, mulai dari ketersediaan stasiun pengisian daya hingga kekhawatiran saat melakukan perjalanan jarak jauh. Di sinilah PHEV hadir sebagai solusi transisi menuju era elektrifikasi.

Head of Product PT BYD Motor Indonesia, Bobby Bharata, menjelaskan bahwa kendaraan PHEV memberikan keleluasaan bagi pengguna karena dapat diisi daya listrik sekaligus menggunakan bahan bakar bensin.

“Pengguna tidak perlu khawatir. Kendaraan bisa di cas seperti mobil listrik, tetapi juga tetap dapat menggunakan bensin ketika perlu,” ujar Bobby di Semarang, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, kendaraan berbahan bakar konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE) masih mendominasi pasar otomotif nasional. Di Jawa Tengah, porsi kendaraan ICE mencapai sekitar 80,3 persen, sedangkan di Kota Semarang berada di angka 75,5 persen.

BACA JUGA: BYD ATTO 1 Tampil Perdana di GIIAS Semarang 2025, City Car Listrik untuk Mobilitas Ramah Lingkungan 

Meski demikian, biaya operasional kendaraan berbasis bensin sangat bergantung pada fluktuasi harga BBM. Kondisi inilah yang mendorong konsumen mencari alternatif kendaraan yang lebih efisien.

Berbeda dengan mobil hybrid biasa, PHEV di bekali baterai berkapasitas lebih besar yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal. Dalam penggunaan sehari-hari, kendaraan lebih banyak mengandalkan motor listrik sebagai penggerak utama.

Saat kita pakai untuk aktivitas perkotaan seperti perjalanan ke kantor, sekolah, maupun berbelanja, mobil dapat berjalan dengan tenaga listrik. Sementara mesin bensin baru bekerja ketika perlu tenaga tambahan, misalnya saat menanjak atau melakukan akselerasi cepat.

Teknologi ini juga didukung sistem regenerative braking, yang mampu mengubah energi saat pengereman menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai. Hasilnya, konsumsi bahan bakar dapat di tekan secara signifikan.

BYD mengklaim teknologi Dual Mode (DM) yang ada pada lini kendaraan PHEV mereka mampu memangkas biaya operasional hingga sekitar 60 persen dari kendaraan berbahan bakar bensin untuk jarak tempuh yang sama.

Bahkan dalam pengujian yang melibatkan sejumlah jurnalis di Jawa Tengah. Efisiensi biaya penggunaan kendaraan mencapai 77 persen berkat minimnya konsumsi bensin selama perjalanan.

Keunggulan lain yang membuat teknologi ini semakin diminati adalah kemampuan menempuh perjalanan jarak jauh tanpa rasa cemas kehabisan daya. Ketika baterai habis, kendaraan tetap dapat melaju menggunakan mesin bensin sehingga perjalanan tidak terhenti.

Karakter tersebut membuat kendaraan PHEV kerap kita sebut sebagai “jembatan” menuju kendaraan listrik murni.

Pengguna dapat merasakan sensasi berkendara yang senyap, responsif, dan ramah lingkungan seperti mobil listrik. Namun tetap memiliki keamanan tambahan dari mesin berbahan bakar bensin.

Selain efisiensi energi, faktor layanan purna jual menjadi perhatian utama masyarakat sebelum memutuskan membeli kendaraan berteknologi elektrifikasi.

Biaya Perawatan Lebih Efisien

Head of After Sales PT BYD Motor Indonesia, Ubaedillah, menegaskan bahwa kesiapan jaringan servis dan ketersediaan suku cadang menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan konsumen.

Menurutnya, biaya perawatan kendaraan PHEV juga lebih efisien dari kendaraan konvensional.

Pada model BYD M6 DM misalnya, perawatan berkala setiap satu tahun atau 20.000 kilometer berdasarkan odometer. Serta 10.000 kilometer berdasarkan jam kerja mesin, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu.

“Interval servis yang lebih panjang memberikan keuntungan dari sisi biaya perawatan bagi konsumen,” kata Ubaedillah.

Saat ini BYD telah memiliki lebih dari 100 dealer di berbagai wilayah Indonesia yang lengkap dengan fasilitas layanan purna jual. Perusahaan juga menyiapkan gudang suku cadang berkapasitas besar guna memastikan kebutuhan komponen konsumen dapat terpenuhi dengan cepat.

Dengan kombinasi efisiensi bahan bakar, fleksibilitas penggunaan energi, dan dukungan layanan purna jual yang semakin luas. Kendaraan PHEV prediksinya akan menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Di tengah tren elektrifikasi yang terus berkembang, teknologi ini menawarkan jalan tengah yang realistis bagi konsumen yang ingin berhemat sekaligus mulai beradaptasi dengan kendaraan ramah lingkungan.

Saat ini BYD Indonesia sedang menggelar BYD DM Technology Challenge & BYD Tech Culture Fest Semarang mulai tanggal 17 – 21 Juni 2026 di Gadjah Mada Plaza, Semarang (Kawasan Simpang). Pada even ini masyarakat bisa melihat booth teknologi BYD terbaru, test drive hingga konser musik secara gratis. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp