SEMARANG, beritajateng.tv – Polda Jawa Tengah mengungkap alasan mantan selebriti sekaligus mantan istri personel Smash, Fabiola Elizabeth Agnes alias F, bergabung dengan jaringan penipuan online internasional bermodus pig butchering yang bermarkas di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo.
Penyidik menemukan Fabiola telah bergabung dengan PT Digi Global Consultant sejak Januari 2026 setelah melihat lowongan pekerjaan yang beredar di media sosial.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, mengatakan Fabiola melamar sebagai karyawan di perusahaan tersebut sebelum akhirnya terlibat dalam aktivitas penipuan yang menyasar warga negara Amerika Serikat.
Artanto mengungkap, Fabiola masuk ke PT Digi Global Consultant melalui proses rekrutmen layaknya pencari kerja pada umumnya. Fabiola mengetahui informasi lowongan pekerjaan dari sejumlah platform media sosial.
“Inisial F ini sudah bergabung di PT Digi Global Consultant dalam kasus pig butchering itu sejak Januari 2026. Yang bersangkutan melamar menjadi karyawan di perusahaan tersebut karena melihat lowongan pekerjaan di Facebook dan TikTok, atau media sosial pada umumnya,” ujar Artanto, Kamis, 4 Juni 2026.
Sebelumnya, Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah menetapkan Fabiola sebagai salah satu tersangka dalam kasus penipuan online jaringan internasional yang beroperasi di Surakarta dan Sukoharjo.
Dalam sindikat tersebut, Fabiola tidak berperan sebagai marketing maupun pencari korban. Penyidik menyebut ia bertugas sebagai model yang melayani video call dengan korban sesuai skenario yang telah kelompok pelaku siapkan.
Gaji Dibayar Dolar, Bisa Tembus Rp30 Juta per Bulan
Selain mengungkap proses perekrutan, penyidik juga menemukan para pekerja di perusahaan tersebut menerima bayaran dalam mata uang dolar.
Besaran penghasilan yang mereka terima bervariasi, tergantung keberhasilan meyakinkan korban untuk menyetorkan dana investasi.
“Gajinya berkisar antara Rp7 juta sampai Rp30 juta kalau ԁikurskan ke rupiah, karena gajinya itu ԁiberikan dalam bentuk dolar,” kata Artanto.
Artanto menuturkan, nominal tersebut tidak bersifat tetap. Pendapatan Fabiola bergantung pada seberapa banyak korban yang berhasil ia tipu untuk melakukan deposit.
“Gajinya ini variatif, tergantung dari hasil yang ԁia dapat dari korban. Kalau korbannya melakukan deposit cukup besar, maka gajinya juga cukup tinggi,” lanjutnya.
BACA JUGA: Bukan Visa Kerja, Belasan WNA Nepal dan Myanmar jadi Scammer Online di Solo Pakai Visa Kunjungan
Artanto menyebut, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan Fabiola memutuskan menerima pekerjaan tersebut. “Tentunya karena alasan ekonomi yang bersangkutan memutuskan bergabung di PT Digi Global Consultant ini,” ujarnya.
Di tengah ramainya perhatian publik terhadap identitas Fabiola sebagai mantan selebriti, Artanto mengatakan penyidik saat ini masih fokus menyelesaikan perkara terhadap para tersangka yang telah ԁiamankan.
Polda Jawa Tengah belum dapat memastikan ada atau tidaknya keterlibatan rekan artis lain dalam jaringan tersebut.
Sementara itu, penyidik masih terus melakukan pengembangan terhadap jaringan penipuan internasional tersebut.
“Tentunya penyidik saat ini berfokus kepada tersangka yang sudah ԁiamankan. Manakala nanti ԁitemukan adanya keterlibatan tersangka lain, pasti akan kami kembangkan lebih lanjut,” terang Artanto.
Fabiola Elizabeth Masih Ditahan di Rutan Polda Jateng
Saat ini, Fabiola masih menjalani penahanan di Rumah Tahanan Polda Jawa Tengah untuk kepentingan penyidikan.
“Tersangka masih ԁitahan di Rutan Polda Jawa Tengah. Penahanan ini khususnya dalam rangka proses penyidikan oleh Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah,” ujar Artanto.
Artanto menambahkan, penyidik tengah merampungkan pemberkasan perkara sebelum melimpahkan berkas kepada jaksa penuntut umum.
“Pada prinsipnya penyidikan masih terus berlangsung. Penyidik mempunyai tanggung jawab untuk merampungkan pemberkasan perkara ini. Apabila berkas sudah siap, tentunya kami akan melaksanakan pelimpahan tahap satu, yakni pengiriman berkas perkara kepada jaksa untuk ԁilakukan penelitian,” tandasnya.
Sebelumnya, Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah mengungkap sindikat pig butchering yang beroperasi menggunakan nama PT Digi Global Consultant berhasil meraup keuntungan sekitar 2,3 juta dolar AS atau setara Rp41,1 miliar sejak Juli 2025 hingga Mei 2026.
Penyidik juga mencatat sedikitnya 133 warga negara asing menjadi korban, dengan target utama warga Amerika Serikat. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





