Jateng

Tradisi Nyekar Jelang Ramadan, Makam Mbah Sholeh Darat Semarang Diserbu Peziarah

×

Tradisi Nyekar Jelang Ramadan, Makam Mbah Sholeh Darat Semarang Diserbu Peziarah

Sebarkan artikel ini
Makam Sholeh Darat
Para peziarah yang berkunjung ke makam K.H. Sholeh Darat atau Muhammad Sholeh bin Umar Al-Samarani di Kompleks TPU Bergota Krakal, Rabu, 18 Februari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang Ramadan ramai masyarakat  lakukan di Kota Semarang. Salah satu lokasi yang menjadi magnet peziarah yakni makam K.H. Sholeh Darat atau Muhammad Sholeh bin Umar Al-Samarani di Kompleks TPU Bergota Krakal, Jalan Bendungan, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan.

Tak hanya warga yang berziarah ke makam keluarga, banyak umat Islam datang khusus untuk mendoakan ulama kharismatik yang masyhur sebagai guru para tokoh besar Islam Nusantara tersebut.

Sosok yang akrab dengan panggilan Mbah Sholeh Darat itu bahkan terkenal memiliki murid lintas organisasi, mulai dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) hingga Muhammadiyah.

Juru kunci makam, Sumiyati, menjelaskan Mbah Sholeh Darat lahir di Desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara pada tahun 1820.

BACA JUGA: KH Sholeh Darat Selangkah Lagi Jadi Pahlawan Nasional, Ini Upaya Pemkot Semarang

Ia kemudian menikah dengan putri ulama Semarang, Kiai Murtadho, dan menetap di Kampung Melayu Darat, yang kini masuk wilayah Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.

“Beliau diambil menantu oleh gurunya, Kiai Murtadho, lalu pindah ke Semarang. Sampai wafat dikenal sebagai Sholeh Darat karena tinggal di Kampung Darat. Beliau wafat tahun 1903 dan haulnya setiap 10 Syawal, tahun ini haul ke-126,” jelas Sumiyati pada Rabu, 18 Februari 2026.

Sejak kecil, Mbah Sholeh Darat sudah hidup dalam suasana perjuangan. Ia kerap mendampingi ayahnya, Kyai Umar Asmarani, yang merupakan tokoh kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.

“Pada masa itu ayah beliau berjuang bersama Pangeran Diponegoro, bahkan disebut sebagai tangan kanan Kyai Sentot Prawirodirdjo,” ungkapnya.

Perjalanan Dakwah Mbah Sholeh Darat

Dalam perjalanan dakwahnya, Mbah Sholeh Darat tersohor sebagai guru bagi banyak tokoh besar Islam. Di antara muridnya yang paling berpengaruh adalah K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Selain itu, tokoh emansipasi perempuan R.A. Kartini juga tercatat pernah belajar Al-Qur’an kepadanya.