“Murid beliau sangat banyak, termasuk K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, dan R.A. Kartini. Masih banyak lagi yang tersebar di Nusantara,” katanya.
Salah satu warisan penting Mbah Sholeh Darat adalah upaya menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Pegon. Langkah tersebut dilakukan pada masa penjajahan Belanda ketika aktivitas pendidikan Islam dibatasi ketat.
“Pada masa penjajahan, sekolah dan pengajian dilarang. Cara beliau tetap bersyiar adalah menerjemahkan Al-Qur’an ke bahasa Jawa melalui Pegon. Upaya ini berhasil membuka pemahaman masyarakat,” paparnya.
Selain dakwah, Mbah Sholeh Darat juga meninggalkan karya tulis keislaman yang hingga kini masih para santri pelajari di pesantren. Tercatat sekitar 14 kitab peninggalannya, di antaranya Faidur Rahman, Lathaif at-Thaharah wa Asrar, hingga Al-Hikam yang sarat nilai tasawuf.
BACA JUGA: Menilik Kisah Masjid Kyai Sholeh Darat, Tempat Ulama dan Pahlawan Nasional Belajar Mengaji
Menjelang Ramadan seperti saat ini, kawasan makamnya padar oleh peziarah dari berbagai daerah. Sumiyati menyebut lonjakan jumlah pengunjung juga tersebab penataan kawasan makam oleh pemerintah yang membuat lokasi lebih nyaman.
“Bulan Ruwah seperti sekarang sangat ramai. Peziarah tidak hanya dari Semarang, tapi juga luar kota seperti Kediri, Lamongan, Surabaya, Pacitan, Indramayu, Cirebon, Kudus, Grobogan, hingga Kendal. Pejabat, ustaz, ulama, semua kalangan pernah ke sini,” ujarnya.
Salah satu peziarah, Muhammad Nur Faizin (46), mengaku rutin datang karena makam orang tuanya berada di kompleks yang sama. Ia juga menyempatkan diri berdoa di makam Mbah Sholeh Darat.
“Tidak hanya saat Ramadan, setiap bulan saya ke makam orang tua sekaligus ziarah ke Mbah Sholeh Darat. Beliau wali Semarang, ilmunya luar biasa dan kitabnya sangat bermanfaat,” tuturnya.
Ramainya peziarah ini menunjukkan bahwa sosok Mbah Sholeh Darat tidak hanya masyarakat kenang sebagai ulama besar, tetapi juga figur pemersatu umat Islam Nusantara yang pengaruhnya masih terasa hingga kini. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





