SEMARANG, beritajateng.tv – Masjid Kyai Sholeh Darat, merupakan salah satu masjid tua di Kota Semarang. Tempat beribadah ini juga merupakan salah satu bangunan yang menjadi saksi bisu beberapa ulama dan pahlawan nasional yang pernah belajar mengaji atau nyantri di Kota Semarang.
Berlokasi di Jalan Dadapsari nomor 212, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, sesuai namanya, Masjid Kyai Sholeh Darat ini merupakan peninggalan Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani yang lebih dikenal sebagai Kyai Sholeh Darat.
Salah satu cicit KH Sholeh Darat, Gus Lukman Hakim menceritakan, Masjid Kyai Sholeh Darat berawal dari sebuah langgar. Lantaran dulunya kawasan tersebut merupakan pemakaman para sayyid atau habieb, masyarakat sekitar kerap menyebutnya sebagai Langgar Sayyid.
Menurut Gus Lukman, Langgar Sayyid sendiri telah berdiri jauh sebelum Belanda masuk ke Indonesia. Yakni sekitar tahun 1700-an.
“Mulai diubah menjadi masjid mulai tahun 1990. Langgar Sayyid waktu itu dibongkar kemudian dibangun masjid seperti ini. Tapi awalnya bangunannya masih tinggi,” kata Gus Lukman Hakim saat beritajateng.tv temui di kediamannya, Rabu 25 Oktober 2023.
Setelah selesai renovasi, masjid kemudian diberi nama sesuai nama kyai yaitu Masjid Kyai Sholeh Darat. Sementara untuk nama “Darat” sendiri ternyata memiliki makna sejarahnya.
BACA JUGA: Kumpulan Doa Untuk Palestina, Agar Mendapat Keselamatan
Menurut Gus Lukman, kata darat pada Kyai Sholeh Darat berasal dari cerita bahwa kawasan di sekitar masjid merupakan satu-satunya daratan pada masa lalu.
Lebih lanjut, saat itu Kota Semarang konon masih tergenang oleh air sehingga banyak kapal yang akhrinya mendarat di kawasan tersebut.
“Kawasan Dadapsari dulu namanya adalah Melayu Darat. Mungkin daerah ini ternamakan darat karena yang muncul sebagai daratan cuma ini. Jaman Belanda baru mulai pengurukan Kota Semarang, salah satunya jadi ada Kota Lama. Kalau jaman dulu kapal bisa masuk ke Kota Semarang, bahkan kapal bisa sampai Lawang Sewu juga jaman dulu,” terangnya.
Tempat Ulama Besar dan Pahlawan Nasional Nyantri
Kyai Sholeh Darat sendiri sempat mendirikan sebuah pondok pesantren yang terkenal sebagai “Ponpes Pamungkas”. Beberapa nama besar baik dari kalangan ulama maupun nasionalis sempat belajar mengaji di ponpes milik Kyai Sholeh Darat.
Gus Lukman menyebut, K.H. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama dan K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah pernah beberapa kali berkunjung ke ponpes Kyai Sholeh Darat. Sementara dari kalangan nasionalis, R.A. Kartini juga pernah nyantri di sini.
BACA JUGA: Banyak Hal Tak Biasa, Ini 7 Fakta Menarik Masjid Madegan Sampang, Salah Satunya Aneh tapi Nyata
“R.A. Kartini termasuk santri, tapi kalau mondok di sini enggak. Cuma sering sowan untuk diskusi, sampai akhirnya Simbah Kyai Sholeh Darat memberikan hadiah tafsir Al-quran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, dengan tulisan pegon,” ungkapnya.
Hingga saat ini, di tangan Gus Lukman sebagai keturunan langsung Kyai Sholeh Darat, masjid ini masih orang gunakan untuk kegiatan ibadah. Bahkan, beberapa juga sering datang untuk ziarah meski makam Kyai Sholeh Darat telah pindah ke TPU Bergota.(*)
Editor: Farah Nazila





