SEMARANG, beritajateng.tv – Tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang Ramadan ramai masyarakat lakukan di Kota Semarang. Salah satu lokasi yang menjadi magnet peziarah yakni makam K.H. Sholeh Darat atau Muhammad Sholeh bin Umar Al-Samarani di Kompleks TPU Bergota Krakal, Jalan Bendungan, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan.
Tak hanya warga yang berziarah ke makam keluarga, banyak umat Islam datang khusus untuk mendoakan ulama kharismatik yang masyhur sebagai guru para tokoh besar Islam Nusantara tersebut.
Sosok yang akrab dengan panggilan Mbah Sholeh Darat itu bahkan terkenal memiliki murid lintas organisasi, mulai dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) hingga Muhammadiyah.
Juru kunci makam, Sumiyati, menjelaskan Mbah Sholeh Darat lahir di Desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara pada tahun 1820.
BACA JUGA: KH Sholeh Darat Selangkah Lagi Jadi Pahlawan Nasional, Ini Upaya Pemkot Semarang
Ia kemudian menikah dengan putri ulama Semarang, Kiai Murtadho, dan menetap di Kampung Melayu Darat, yang kini masuk wilayah Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.
“Beliau diambil menantu oleh gurunya, Kiai Murtadho, lalu pindah ke Semarang. Sampai wafat dikenal sebagai Sholeh Darat karena tinggal di Kampung Darat. Beliau wafat tahun 1903 dan haulnya setiap 10 Syawal, tahun ini haul ke-126,” jelas Sumiyati pada Rabu, 18 Februari 2026.
Sejak kecil, Mbah Sholeh Darat sudah hidup dalam suasana perjuangan. Ia kerap mendampingi ayahnya, Kyai Umar Asmarani, yang merupakan tokoh kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
“Pada masa itu ayah beliau berjuang bersama Pangeran Diponegoro, bahkan disebut sebagai tangan kanan Kyai Sentot Prawirodirdjo,” ungkapnya.
Perjalanan Dakwah Mbah Sholeh Darat
Dalam perjalanan dakwahnya, Mbah Sholeh Darat tersohor sebagai guru bagi banyak tokoh besar Islam. Di antara muridnya yang paling berpengaruh adalah K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Selain itu, tokoh emansipasi perempuan R.A. Kartini juga tercatat pernah belajar Al-Qur’an kepadanya.
“Murid beliau sangat banyak, termasuk K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, dan R.A. Kartini. Masih banyak lagi yang tersebar di Nusantara,” katanya.
Salah satu warisan penting Mbah Sholeh Darat adalah upaya menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Pegon. Langkah tersebut dilakukan pada masa penjajahan Belanda ketika aktivitas pendidikan Islam dibatasi ketat.
“Pada masa penjajahan, sekolah dan pengajian dilarang. Cara beliau tetap bersyiar adalah menerjemahkan Al-Qur’an ke bahasa Jawa melalui Pegon. Upaya ini berhasil membuka pemahaman masyarakat,” paparnya.
Selain dakwah, Mbah Sholeh Darat juga meninggalkan karya tulis keislaman yang hingga kini masih para santri pelajari di pesantren. Tercatat sekitar 14 kitab peninggalannya, di antaranya Faidur Rahman, Lathaif at-Thaharah wa Asrar, hingga Al-Hikam yang sarat nilai tasawuf.
BACA JUGA: Menilik Kisah Masjid Kyai Sholeh Darat, Tempat Ulama dan Pahlawan Nasional Belajar Mengaji
Menjelang Ramadan seperti saat ini, kawasan makamnya padar oleh peziarah dari berbagai daerah. Sumiyati menyebut lonjakan jumlah pengunjung juga tersebab penataan kawasan makam oleh pemerintah yang membuat lokasi lebih nyaman.
“Bulan Ruwah seperti sekarang sangat ramai. Peziarah tidak hanya dari Semarang, tapi juga luar kota seperti Kediri, Lamongan, Surabaya, Pacitan, Indramayu, Cirebon, Kudus, Grobogan, hingga Kendal. Pejabat, ustaz, ulama, semua kalangan pernah ke sini,” ujarnya.
Salah satu peziarah, Muhammad Nur Faizin (46), mengaku rutin datang karena makam orang tuanya berada di kompleks yang sama. Ia juga menyempatkan diri berdoa di makam Mbah Sholeh Darat.
“Tidak hanya saat Ramadan, setiap bulan saya ke makam orang tua sekaligus ziarah ke Mbah Sholeh Darat. Beliau wali Semarang, ilmunya luar biasa dan kitabnya sangat bermanfaat,” tuturnya.
Ramainya peziarah ini menunjukkan bahwa sosok Mbah Sholeh Darat tidak hanya masyarakat kenang sebagai ulama besar, tetapi juga figur pemersatu umat Islam Nusantara yang pengaruhnya masih terasa hingga kini. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





