SEMARANG, beritajateng.tv – Hadirnya trend mobil listrik merk global di Indonesia tengah mentransformasi pasar otomotif nasional. Fenomena ini bukan hanya kebetulan, melainkan hasil dari dari pesan yang sistematif. Melalui Teori Framing, kita dapat membedah bagaimana citra mobil listrik terbentuk untuk menonjolkan keuntungan tertentu tanpa memikirkan tantangan yang nyata bagi pengguna.
Bingkai efisiensi dan daya tarik ekonomi, narasi publik saat ini cenderung membingkai mobil listrik sebagai simbol efisiensi masa depan. Dengan harga yang kompetitif dan potongan pajak yang menggiurkan, masyarakat mulai tergiur oleh janji kepraktisan, seperti pengisian daya baterai di rumah yang mampu memotong waktu apabila harus antre di SPBU. Pembingkaian ini berhasil membangun persepsi bahwa transisi ke kendaraan listrik adalah proses mulus tanpa hambatan.
Realita yang Tersembunyi, Ketimpangan Infrastruktur
Jika kita melakukan framing ulang terlihat celah besar pada aspek infrastruktur. Narasi pengisian mandiri sering kali mengabaikan situasi darurat saat perjalanan jauh. Meskipun SPKLU terus bertambah, distribusinya masih sangat terpusat di wilayah metropolitan, kita bisa ambil contoh jumlah SPKLU di wilayah Jateng dan Ibu Kota Jakarta.
Menurut website Radio Idola Semarang, saat ini telah tersedia sebanyak 307 unik SPKLU yang tersebar di 215 lokasi di Jateng-DIY. Sedangkan menurut website Kadata.co.id, PT PLN UID Jakarta Raya mengungkap bahwa jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Ibu Kota Jakarta sudah mencapai 532 unit.
Ketimpangan tersebut yang menjadi masalah bagi masyarakat di luar kota besar, keterbatasan akses pengisian menjadi kendala nyata. Sayangnya, isu krusial seperti kecemasan akan daya baterai diluar jalur antar-kota sering tenggelam oleh sorotan terhadap kecanggihan semata.
Intinya, sebaiknya mobil listrik jangan hanya jadi trend di Kota Besar sepeti Jakarta saja. Pemerintah dan perusahaan harus serius membangun tempat isi daya (SPKLU) yang merata sampai ke daerah-daerah di Indonesia lainya. Jika infrastruktur belum siap, mobil listrik hanya akan jadi gaya hidup bagi orang kota, bukan solusi untuk semua orang.





