Tunggu Keputusan Kemenkes, Apotek Sari Husada Masih Jual Sirup untuk Anak

Apotek Sari Husada Demak.

” IDI melaporkan ada 14 provinsi yaitu Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Kepri, Papua Barat dan NTT mengalami Ginjal Akut Misterius yang menyebabkan balita cuci darah, setelah dugaan mengonsumsi obat”

Demak, 20/10 (BeritaJateng.tv) – Menindak lanjuti adanya laporan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terkait temuan 131 anak mengalami gagal ginjal akut misterius yang mengharuskan anak untuk cuci darah, kejadian ini diduga lantaran telah mengkonsumsi obat berjenis sirup yang terdapat kandungan etilen glikol (eg) dirtilen glikol (deg) seperti yang berada di sirup paracetamol atau penurun panas tubuh.

Sama halnya dengan IDI, Komisi perlindungan Anak dan Ibu meminta semua industri obat obatan menghentikan produksinya bila itu obat berasal dari Indonesia atau ijinnya melalui perusahaan obat tertentu.

Kemenkes diharapkan segera mengusut tuntas. Jangan sampai masih tersebar luas, masih bisa di beli, menjadi promosi obat, donasi obat, dan sebagainya. Harus segera ada ketegasan dan kejelasan, untuk stop dan cegah peredarannya.

Masih simpang siurnya terkait penarikan obat yang mengandung EG dan DEG di seluruh apotek yang berada diseluruh Indonesia, kabar tersebut membuat bingung pengurus ataupun pemilik apotek tak terkecuali apotek sari Husada yang merupakan milik Pemerintah Kabupaten Demak.

Menurut direktur Apotek Sari Husada, Siswati, penarikan sirop yang mengandung EG dan DEG tersebut terbilang mendadak, pasalnya kabar penarikan melalui pesan group Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

” Info dari IAI bahwasannya ada penarikan dan itu sehari setelah adanya kabar dari KPAI terkait 131 anak dibawah umur cuci darah,” tutur Siswati.

Meskidemikian, lanjut direktur Apotek Sari husada, sementara ini masih melakukan penjualan obat yang dimaksud tersebut, mengingat belum adanya keputusan dari pemerintah untuk menarik jenis sirop tersebut dan saat ini sekitar 20 jenis sirop untuk anak tersebut masih dijual di apotek ber- plat merah ini.

” Kita sementara ini masih menjual sirop untuk anak tersebut dan kita masih menunggu keputusan dari IAI mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dijual,” pungkas Siswati. (BW/El)

Leave a Reply