Dengan semua fakta tersebut, strategi yang tepat dari Cagub-Cawagub Jateng untuk menggaet suara anak muda sangat krusial. Andika Perkasa dan Ahmad Luthfi perlu beradu strategi yang inovatif untuk menjangkau dan meyakinkan pemilih muda di Jawa Tengah. Politik adalah soal persepsi. Sukses tak hanya tergantung pada popularitas, tetapi juga kemampuan menyampaikan visi misi dengan cara inovatif.
Sejumlah cara yang umum untuk menggaet pemilih muda antara lain, kampanye digital yang kreatif, menggunakan gaya komunikasi anak muda, menawarkan program yang relevan, hingga mendekati komunitas anak muda.
BACA JUGA: Profil Andika Perkasa, Mantan Panglima TNI yang Jadi Cagub Jateng Usungan PDIP
Sekitar dua minggu masa kampanye berjalan sejak 25 September 2024 lalu, beberapa cara sudah Cagub-Cawagub Jateng lakukan untuk menarik minat pemilih muda. Hendrar Prihadi misalnya rutin menggelar acara Tawa Bareng Hendi hingga Nobar laga Timnas. Berbagai kegiatan tersebut juga menjadi sarana menyerap aspirasi kalangan muda. Hendi juga sejak lama aktif di medsos dengan mengunggah konten-konten ringan bernuansa anak muda.
Ahmad Luthfi seolah tak mau kalah. Jenderal bintang tiga tersebut punya relawan Gen Z dan menggandeng influencer Dara Sarasvati untuk berkampanye. Luthfi juga berencana menerbitkan Kartu Zilenial yang nantinya bisa untuk mendapatkan potongan harga internet hingga kopi.
Lalu bagaimana caranya agar pola komunikasi Cagub-Cawagub Jateng tersebut bisa relate dengan anak muda? Jika melihat fenomena beberapa tahun belakangan, anak muda lebih suka sesuatu yang genuine, natural, dan apa adanya. Mereka tak suka dengan hal-hal yang sifatnya artifisial. Apakah ini menandakan era pencitraan politisi sudah berakhir? Mungkin saja.
Belajar dari SBY dan Bambang Pacul
Setidaknya ada dua fenomena yang menggambarkan hal tersebut. Pertama, tampilnya Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Festival Musik Pestapora. SBY tampil menjadi diri sendiri membawakan lagu milik grup band Jamrud dan Tipe-X.


