Catatan Editor

Upaya Cagub-Cawagub Jateng Berebut Suara Gen Z, Dekati Komunitas hingga Nonton Bruno Mars

×

Upaya Cagub-Cawagub Jateng Berebut Suara Gen Z, Dekati Komunitas hingga Nonton Bruno Mars

Sebarkan artikel ini
Ricky Fitriyanto
Ricky Fitriyanto (Dokumen Pribadi)

Penampilannya bisa relate dengan para penonton Pestapora yang sebagian besar baru berusia belasan tahun. Mereka masih duduk di bangku SD saat SBY menjadi Presiden. Esok harinya SBY melukis bareng para penonton dipandu Vincent-Desta. Tak ada joget TikTok, tak ada sesuatu yang di create berlebihan agar bisa nyambung dengan anak muda.

Fenomena kedua adalah naiknya nama politisi senior PDIP Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul melalui berbagai podcast. Bambang Pacul pada usia yang tak muda lagi, menyebut dirinya gaptek dan “orang goa” yang tak mengenal medsos, mendadak viral karena berbagai statementnya soal “Korea-Korea”. Pria yang kini menjabat Wakil Ketua MPR RI tersebut memberi petuah hidup dan memacu anak-anak muda dari kalangan bawah untuk “melenting” meraih cita-citanya.

BACA JUGA: Garis Besar Timses Sudah Terbentuk, Hendi Ingin Bambang Pacul jadi Ketua Tim Pemenangan

Banyak pernyataan Bambang Pacul menjadi sound TikTok. Mulai soal “Jangan Lawan Orang Baik dan Orang Cantik” hingga laki-laki tak perlu minder mengejar perempuan meski punya tampang pas-pasan.

Dalam setiap siniar dan acara Kongkow, Ketua DPD PDIP Jawa Tengah ini tampil apa adanya. Ngomong blak-blakan sehingga banyak kata yang terpaksa kena sensor, hingga cuek merokok. Genuine. Jika keviralan itu ternyata berdampak secara elektoral, itu soal lain lagi.

Artifisial gampang dibaca orang

Soal aksi para politisi yang terkesan artifisial ini juga semakin gampang dibaca orang. Sebab sudah ada beberapa politisi sebelumnya yang terlanjur lekat dengan image tertentu.

Jokowi misalnya sudah lama punya image merakyat. Label tokoh yang suka marah-marah sudah terlanjur menempel pada Ahok dan Risma.

Maka jika tiba-tiba ada politisi lain yang mengamuk menegur bawahan dalam sorotan kamera, publik akan bertanya-tanya. Begitu juga jika ada kepala daerah yang marah-marah dan menendang tembok sampai bolong karena hasil pembangunan gedung ia anggap tak sesuai spek, sebagian orang akan menganggapnya aneh.