Jateng

Usung Tema Sedekah Bumi, SMPN 3 Tunjungan Blora Gelar Parade Budaya ‘Gas Deso’

×

Usung Tema Sedekah Bumi, SMPN 3 Tunjungan Blora Gelar Parade Budaya ‘Gas Deso’

Sebarkan artikel ini
Tunjungan Blora
Arak-arakan gunungan mirip sedekah bumi oleh para siswa SMPN 3 Tunjungan Blora. (Heri/beritajateng.tv)

BLORA, beritajateng.tv – Masih dalam rangka memeriahkan HUT ke-79 Kemerdekaan RI, SMP Negeri 3 Tunjungan Blora menggelar parade budaya pada Kamis, 29 Agustus 2024.

Kegiatan tersebut bertemakan sedekah bumi atau warga Blora biasa menyebutnya “gas deso“. Para guru dan siswa pun mengeanakan pakaian adat samin layaknya warga Blora yang tengah melangsungkan gas deso.

Di barisan pertama, tampak dua siswi mengenakan pakaian karnaval, dan di belakangnya menyusul barisan pasukan pengibar bendera.

BACA JUGA: Pasangan ASRI Daftar ke KPU Blora, Targetkan Kemenangan 70 Persen di Pilkada 2024

Kemudian, sejumlah siswa mengusung gunungan hasil bumi, sebagai tanda syukur atas limpahan hasil alam setempat.

Tak hanya para siswa dan guru, orang tua murid pun turut berjalan kaki mengenakan pakaian adat samin. Mereka ikut mengelilingi wilayah SMPN 3 Tunjungan Blora.

Di barisan paling belakang berlangsung kesenian lokal barongan, dan para pemainnya yakni sekelompok siswa binaan salah satu guru bernama Yudhi Tri Nugroho.

Parade budaya SMPN 3 Tunjungan Blora atas inisiasi orang tua siswa

Yudhi Tri Nugroho, yang juga salah satu panita penyelenggara, mengatakan kegiatan ini selain untuk memeriahkan HUT ke-79 Kemerdekaan RI, juga untuk menyosialisasikan kegiatan positif dari siswa-siswi SMP Negeri 3 Tunjungan.

Sejumlah prestasi raihan siswa-siswi SMP Negeri 3 Tunjungan Blora pun mereka pamerkan kepada masyarakat sekitar.

“Kami ingin mengenalkan anak-anak pada kebudayaan, sebagai kearifan lokal Blora. Harapannya agar anak-anak nantinya tidak melupakan budayanya sendiri,” ungkap Yudi, Kamis, 29 Agustus 2024.

BACA JUGA: Hari Kedua Pendaftaran, KPU Blora Terima Dua Bapaslon Bupati dan Wakil Bupati Blora

Ketua Komite SMPN 3 Tunjungan Blora, Jaidun, mengungkapkan bahwa ide ini berasal dari inisiasi orang tua murid guna mendukung kemajuan sekolah.

“Kami sebagai orang tua, ingin agar sekolah yang berada di pinggir kota ini juga dikenal masyarakat. Jadi tidak hanya sekolah yang dianggap favorit saja, sekolah di pinggiran juga bisa maju,” tutur Jaidun.

Ia berharap orang tua tak perlu banyak berpikir dalam memilih sekolah untuk pendidikan anaknya. Sebab, sistem zonasi yang pemerintah terapkan membuat kini tak ada namanya sekolah favorit, alias, semua sekolah sama.

“Yang penting anak bisa mengenyam pendidikan, agar pemikirannya bisa berkembang, tidak hanya bermain gadget saja,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp