SEMARANG, beritajateng.tv – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyoroti persoalan pembuangan limbah warung bakso ke saluran got di Srondol Wetan, Banyumanik, Kota Semarang yang sempat viral di media sosial.
Agustina meminta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) turun mengawasi aktivitas usaha, termasuk pedagang kaki lima (PKL), sekaligus membenahi saluran pembuangan.
Sejumlah OPD, lanjut dia, seperti Satpol PP dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) perlu bergerak bersama menertibkan jika terdapat usaha.
Selain mengawasi saluran pembuangan PKL di wilayah, Pemkot Semarang saat ini juga turut mengawasi pekerjaan proyek drainase PKL di kawasan Simpang Lima Semarang.
Menurut dia, penataan kawasan tidak cukup hanya memperbaiki tampilan perkotaan, tetapi juga harus memastikan saluran pembuangan limbah berfungsi dengan baik.
Salah satu proyek yang saat ini tengah digarap Pemkot Semarang yakni pembenahan saluran di kawasan Simpang Lima yang membutuhkan waktu karena sejumlah jalur pembuangan sebelumnya tidak saling terhubung. Kondisi tersebut berpotensi membuat limbah mengendap dan menimbulkan bau.
“Kalau tidak dbuat jalur pembuangan, nanti akan bau. Sekarang ini sudah mulai tercium bau di sekitar kawasan tersebut,” ujar Agustina.
BACA JUGA: Semarang Sabet Predikat Kota Terbaik Digital Nasional, Agustina: AI Harus Dikendalikan Manusia
Pemkot, lanjut dia, sedang mempercepat pembenahan saluran untuk mengejar waktu sebelum curah hujan meningkat. Pekerjaan itu melibatkan Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Perkim, Dinas Pekerjaan Umum (DPU), serta Dinas Penataan Ruang.
“Kita berlomba dengan hujan. Ini kerja keras Satpol PP, DLH, Perkim, DPU, dan saya minta pasukan Dinas Tata Ruang juga ikut turun untuk menyelesaikan semuanya,” katanya.
Di sisi lain, DLH Kota Semarang mengingatkan pelaku usaha kuliner agar tidak membuang limbah cair sisa makanan langsung ke saluran lingkungan. Setiap usaha perlu memiliki fasilitas pengolahan awal untuk memisahkan lemak dan sisa makanan sebelum air limbah dialirkan.
Kepala Bidang Pengawasan dan Pemberdayaan Lingkungan DLH Kota Semarang, Wahyu Heryawan, mengatakan salah satu fasilitas yang dapat dinas gunakan adalah grease trap atau perangkap lemak.
“Yang benar seharusnya paling tidak mereka punya grease trap. Jadi, air dari limbah cucian tidak langsung lari ke saluran warga,” kata Wahyu.
Grease trap berfungsi menahan lemak dan sisa makanan agar tidak ikut mengalir ke saluran pembuangan.
Fasilitas ini penting bagi usaha kuliner yang menghasilkan limbah berminyak, termasuk warung bakso yang menggunakan kuah kaldu.
Menurut Wahyu, persoalan pengelolaan limbah tidak hanya terjadi pada warung bakso. Restoran, warung makan, hingga usaha kuliner skala kecil juga berpotensi menghadapi masalah serupa.
Namun, penerapan fasilitas pengolahan limbah pada UMKM memiliki tantangan tersendiri. Pedagang yang berjualan menggunakan gerobak atau tenda umumnya tidak memiliki bangunan permanen untuk memasang instalasi pengolahan.
“Kalau UMKM memang namanya UMKM, kami hanya bisa melakukan pembinaan. Kalau restoran mungkin sebagian sudah punya, tetapi kalau PKL model tenda tentu lebih sulit,” jelasnya.
Pemilik Warung Harus Tampung Limbah
Menindaklanjuti kasus warung bakso di Srondol Wetan, DLH telah mendatangi lokasi bersama camat dan perangkat wilayah. Petugas memberikan edukasi kepada pemilik warung sekaligus menyampaikan sejumlah pilihan penanganan.
Salah satu solusinya adalah menampung limbah cair terlebih dahulu di wadah khusus. Setelah terkumpul, limbah dapat di ambil secara berkala menggunakan kendaraan penyedot.
Wahyu mengatakan pemilik warung bakso tersebut telah menyanggupi untuk menampung limbah sebelum petugas melakukan penyedotan.
Selain itu, DLH menyarankan penggunaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) portabel.
Perangkat ini dapat menjadi alternatif bagi pelaku usaha yang menyewa tempat karena bisa di pindahkan ketika mereka berganti lokasi.
“Kalau kami mengusulkan untuk ada grease trap. Yang kedua, bisa menggunakan IPAL portable. Sekarang sudah banyak terjual dan harganya juga bervariasi,” ungkap Wahyu. (*)





