Jateng

25 Ribu Warga Menari Dug Dug Der Pecahkan Rekor LEPRID di Simpang Lima Semarang

×

25 Ribu Warga Menari Dug Dug Der Pecahkan Rekor LEPRID di Simpang Lima Semarang

Sebarkan artikel ini
25 Ribu Warga Menari Dug Dug Der Pecahkan Rekor LEPRID di Simpang Lima Semarang
Ratusan orang menari tarian Dug Dug Der Semarangan di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

Ia berharap kegiatan budaya tidak berhenti setelah pemecahan rekor. Pemkot Semarang akan mendorong gerakan serupa melalui sekolah, komunitas seni, sanggar, hingga lingkungan kelurahan.

“Jangan sampai hari ini kita mencetak rekor, besok selesai. Rekor ini kita jadikan titik awal untuk memperluas gerakan budaya di seluruh wilayah,” tegasnya.

Dug Dug Der sendiri memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi Dugderan. Tradisi tersebut telah berkembang di Semarang sejak abad ke-19 sebagai penanda datangnya bulan Ramadan.

Nama Dugderan berasal dari perpaduan bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der”. Tradisi ini juga identik dengan Warak Ngendog yang menjadi simbol akulturasi berbagai budaya di Kota Semarang.

Agustina mengatakan nilai keberagaman tersebut perlu terus di pertahankan melalui bentuk kesenian yang dapat diterima masyarakat modern.

“Kota Semarang hadir dari keberagaman. Karena itu, budaya harus menjadi ruang yang menyatukan. Dug Dug Der di ciptakan sebagai karya yang bisa dilakukan bersama, di nikmati bersama, dan menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.

Festival tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Agustina, semangat kebersamaan yang terlihat dalam festival sejalan dengan nilai persatuan yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.

“Kemerdekaan mengajarkan kita untuk bersatu dalam keberagaman. Hari ini kita menunjukkan bahwa budaya menjadi bahasa yang efektif untuk mempererat masyarakat,” katanya.

Lestarikan Budaya Nenek Moyang

Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka mengatakan pemecahan rekor tersebut menjadi bukti bahwa budaya mampu menyatukan masyarakat dalam skala besar.

“Yang menari ada 25 ribu peserta. Mereka terdiri dari siswa, OPD, dan masyarakat. Semua ikut menari dalam rangka guyub rukun keluarga Kota Semarang serta melestarikan budaya nenek moyang,” kata Paulus.

Menurutnya, pemecahan rekor bukan sekadar soal jumlah peserta. Kegiatan tersebut memiliki pesan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga budaya daerah.

“Tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa budaya akan menyatukan masyarakat Kota Semarang. Tari Dug Dug Der adalah tarian khas Kota Semarang,” ujarnya.