SEMARANG, beritajateng.tv – Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang penuh ribuan warga pada Minggu pagi, 9 Agustus 2026. Sekitar 25 ribu orang bergoyang bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarang.
Jumlah peserta yang fantastis itu mengantarkan Kota Semarang mencatatkan Rekor Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID).
Rekor Kota Semarang itu untuk kategori “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan dengan Peserta Terbanyak”.
Penyerahan piagam penghargaan bernomor 1.037/LEPRID/VIII/2026 langsung Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka kepada Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Agustina mengatakan pencapaian tersebut tidak sekadar mengejar rekor. Pemkot Semarang ingin menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus kekuatan baru bagi perekonomian daerah.
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang,” ujar Agustina.
Menurutnya, Festival Dug Dug Der menjadi salah satu cara untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Apalagi kegiatan tersebut melibatkan sekitar 48 sekolah dan berbagai unsur masyarakat.
“Budaya yang sudah hidup sekian ratus tahun ingin kami pertahankan. Kami mengajak semua kalangan untuk bersama-sama menari Dug Dug Der Semarang,” katanya.
Agustina menilai kegiatan budaya memiliki manfaat yang lebih luas. Selain menjadi ruang ekspresi dan hiburan, menari juga mendorong masyarakat untuk bergerak aktif.
BACA JUGA: Dugderan 2026 Semarang Meriah, Tradisi Sambut Ramadan 1447 H Kembali Hadir
“Menari itu sama dengan olahraga yang di kemas dengan budaya. Mudah-mudahan Kota Semarang tetap sehat,” ujarnya.
Simpang Lima terpilih sebagai lokasi utama karena kawasan tersebut menjadi salah satu ikon Kota Semarang. Setiap akhir pekan, kawasan ini menjadi pusat aktivitas masyarakat dan berbagai kegiatan publik.
Di sisi lain, Agustina melihat budaya memiliki hubungan erat dengan pengembangan ekonomi Kota Semarang. Pemerintah kota saat ini menempatkan Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa.
“Segala bentuk pertunjukan seni dan budaya menjadi titik utama dari kemajuan perekonomian. Mudah-mudahan perekonomian kita semakin maju,” katanya.
Ia berharap kegiatan budaya tidak berhenti setelah pemecahan rekor. Pemkot Semarang akan mendorong gerakan serupa melalui sekolah, komunitas seni, sanggar, hingga lingkungan kelurahan.
“Jangan sampai hari ini kita mencetak rekor, besok selesai. Rekor ini kita jadikan titik awal untuk memperluas gerakan budaya di seluruh wilayah,” tegasnya.
Dug Dug Der sendiri memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi Dugderan. Tradisi tersebut telah berkembang di Semarang sejak abad ke-19 sebagai penanda datangnya bulan Ramadan.
Nama Dugderan berasal dari perpaduan bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der”. Tradisi ini juga identik dengan Warak Ngendog yang menjadi simbol akulturasi berbagai budaya di Kota Semarang.
Agustina mengatakan nilai keberagaman tersebut perlu terus di pertahankan melalui bentuk kesenian yang dapat diterima masyarakat modern.
“Kota Semarang hadir dari keberagaman. Karena itu, budaya harus menjadi ruang yang menyatukan. Dug Dug Der di ciptakan sebagai karya yang bisa dilakukan bersama, di nikmati bersama, dan menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.
Festival tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Agustina, semangat kebersamaan yang terlihat dalam festival sejalan dengan nilai persatuan yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.
“Kemerdekaan mengajarkan kita untuk bersatu dalam keberagaman. Hari ini kita menunjukkan bahwa budaya menjadi bahasa yang efektif untuk mempererat masyarakat,” katanya.
Lestarikan Budaya Nenek Moyang
Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka mengatakan pemecahan rekor tersebut menjadi bukti bahwa budaya mampu menyatukan masyarakat dalam skala besar.
“Yang menari ada 25 ribu peserta. Mereka terdiri dari siswa, OPD, dan masyarakat. Semua ikut menari dalam rangka guyub rukun keluarga Kota Semarang serta melestarikan budaya nenek moyang,” kata Paulus.
Menurutnya, pemecahan rekor bukan sekadar soal jumlah peserta. Kegiatan tersebut memiliki pesan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga budaya daerah.
“Tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa budaya akan menyatukan masyarakat Kota Semarang. Tari Dug Dug Der adalah tarian khas Kota Semarang,” ujarnya.
Agustina juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam festival tersebut. Menurutnya, keberhasilan menghadirkan puluhan ribu peserta lahir dari kolaborasi pemerintah, sekolah, komunitas, seniman, dunia usaha, serta masyarakat.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Ada banyak pihak yang ikut mendukung. Kolaborasi seperti inilah yang harus terus kita bangun,” tuturnya. (*)





