SEMARANG, beritajateng.tv – Jawa Tengah memiliki 8.523 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau Kopdes Merah Putih. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen atau sekitar 5.400 koperasi disebut sudah mulai beroperasi.
Namun, tak seluruh koperasi telah memiliki tujuh gerai usaha yang menjadi konsep pengembangan Kopdes Merah Putih.
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Desy Arijani mengatakan, kondisi Kopdes Merah Putih di setiap daerah masih beragam. Ada koperasi yang baru menjalankan satu gerai, sementara lainnya telah mengoperasikan dua, tiga hingga empat gerai.
Hal tersebut Desy ungkap saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Rabu, 12 Agustus 2026.
“Yang sudah operasional sekitar 63 persen atau sekitar 5.400-an unit. Tapi memang belum semuanya operasional, dalam arti lengkap tujuh gerai,” ujar Desy.
Sesuai Inpres 17/25, kata Desy, Kopdes Merah Putih memiliki tujuh komponen usaha, yakni kantor koperasi, gerai sembako, gerai simpan pinjam, klinik desa, apotek desa, cold storage, serta potensi usaha lainnya.
BACA JUGA: Kritik KDMP di Depan Zulhas, Mahasiswa Unissula Ragu Kopdes Merah Putih Bisa Saingi Warung Madura
Desy menegaskan, pembangunan seluruh gerai tersebut tidak bisa terlaksana secara serentak karena harus menyesuaikan kemampuan dan potensi masing-masing koperasi.
“Kan tidak bisa ujug-ujug ketujuh gerai itu berjalan semua. Jadi ada yang baru berjalan satu gerai seperti sembako, tapi ada juga yang sudah berjalan dua, tiga, atau empat gerai sekaligus,” jelasnya.
Ia mencontohkan sejumlah Kopdes Merah Putih yang telah mengembangkan lebih banyak unit usaha. Di Desa Metuk, Kabupaten Boyolali, misalnya, klinik desa dan apotek desa sudah tersedia.
Selain itu, Kopdes Merah Putih di Desa Bentangan dan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, juga disebut telah menjalankan sejumlah unit usaha.
“Rata-rata yang bisa jalan sampai enam gerai itu sudah lumayan bagus,” katanya.
Desy menambahkan, Kopdes Merah Putih juga dapat mengembangkan layanan lain sesuai potensi wilayah masing-masing. Beberapa di antaranya bekerja sama dengan BRILink melalui layanan Laku Pandai.
Ada pula koperasi yang bekerja sama dengan Samsat Budiman dan Bapenda untuk layanan pembayaran pajak kendaraan, serta dengan Bank Jateng untuk layanan Laku Pandai.
“Kondisinya macam-macam, tidak bisa kita pukul rata harus jalan berapa gerai, karena semua tergantung potensi yang ada di masing-masing wilayah tersebut,” tuturnya.
Purworejo Punya 454 Kopdes Merah Putih, Terbanyak di Jateng
Dari ribuan Kopdes Merah Putih tersebut, Kabupaten Purworejo menjadi daerah dengan jumlah koperasi terbanyak di Jawa Tengah, yakni mencapai 454 unit.
Desy menjelaskan, tingginya jumlah Kopdes Merah Putih di Purworejo berkaitan dengan jumlah desa yang memang cukup banyak di wilayah tersebut.
“Kenapa Kopdesnya banyak di sana? Itu karena jumlah desanya memang banyak. Harusnya jumlah desa di Purworejo itu ada 494 desa, tetapi jumlah Kopdesnya hanya 454 unit,” jelasnya.
Menurut keterangannya, terdapat sekitar 40 desa di Purworejo yang akhirnya bergabung dengan desa lain untuk membentuk KDKMP melalui musyawarah desa.
Penggabungan tersebut dilakukan lantaran sejumlah desa dinilai belum memenuhi batas minimal jumlah penduduk untuk membentuk koperasi sendiri atau memiliki potensi produktivitas yang terbatas.
“Misalnya, ada desa yang mayoritas penduduknya sudah tua sehingga kurang produktif. Jika di situ ada pembangunan koperasi, harapan untuk bisa berkembang dan berkelanjutan sangat kecil,” katanya.
Sebab itu, koperasi dari sejumlah desa tersebut kemudian digabung agar memiliki basis anggota dan potensi usaha yang lebih memungkinkan untuk dikembangkan.
“Makanya di Purworejo, ada sekitar 40 desa yang akhirnya digabung koperasinya,” imbuh Desy.
Belum Semua Kopdes Merah Putih Punya Truk maupun Motor Roda Tiga
Selain persoalan kelengkapan gerai, sarana dan prasarana pendukung Kopdes Merah Putih di Jawa Tengah juga belum seluruhnya terpenuhi. Desy mengatakan, koperasi yang bangunannya telah selesai dibangun belum tentu telah mendapatkan seluruh kendaraan operasional yang dibutuhkan.
“Kalau terdistribusi semua, jelas belum. Kemarin kami sempat berkeliling, KDKMP yang gedungnya sudah selesai dibangun pun belum semuanya dilengkapi dengan kendaraan operasional tersebut,” ungkapnya.
Adapun standar sarana kendaraan operasional Kopdes Merah Putih terdiri dari satu unit truk, satu unit mobil pikap, dan dua unit motor roda tiga atau Tossa.
“Memang ada beberapa daerah yang sarananya sudah lengkap. Tapi secara keseluruhan di Jawa Tengah belum semuanya lengkap,” katanya.
Lebih jauh, berdasarkan data portal Agrinas atau PT Agro Industri Nasional, Desy menyebut pembangunan fisik Kopdes Merah Putih yang telah mencapai 100 persen atau hampir selesai baru sekitar 4.800 unit.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa progres pembangunan fisik dan operasional KDKMP masih berlangsung secara bertahap di berbagai daerah. Desy mengatakan percepatan tetap terlaksana dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing koperasi serta potensi usaha yang tersedia di desa.
BACA JUGA: Zulhas Respons Kritik Mahasiswa soal MBG dan KDMP, Pemerintah Benahi Manajemen BGN
Dengan demikian, KDKMP yang sudah beroperasi tidak selalu langsung memiliki seluruh fasilitas usaha maupun sarana pendukung sesuai konsep tujuh gerai.
“Berdasarkan data dari portal Agrinas, KDKMP di Jawa Tengah yang progres fisik bangunannya sudah 100 persen atau hampir selesai itu baru sekitar 4.800 unit,” tandas Desy. (*)
Editor: Farah Nazila





