SEMARANG, beritajateng.tv – Warga Desa Kadirejo dan Desa Semowo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang kini lebih mudah mengakses layanan pendidikan, kesehatan, pasar, hingga pusat kegiatan ekonomi.
Kemudahan tersebut hadir setelah Kodam IV/Diponegoro membangun Jembatan Gantung Perintis Garuda yang menghubungkan kedua wilayah desa tersebut.
“Sehingga masyarakat yang akan pergi ke sekolah, mengakses layanan Puskesmas, ke pasar dan lainnya, kini semakin mudah dengan adanya jembatan gantung ini,” jelas Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Achiruddin, usai meresmikan Jembatan Gantung Perintis Garuda di Dusun Demangan, Desa Kadirejo, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurut Achiruddin, jembatan tersebut merupakan satu dari 311 Jembatan Gantung Perintis Garuda yang dibangun Kodam IV/Diponegoro di wilayah teritorialnya.
BACA JUGA: Siap-siap, Jembatan Perintis Garuda di Blora Hampir Rampung
Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program nasional pembangunan sekitar 2.500 jembatan oleh TNI di berbagai wilayah Indonesia. Peresmian secara terpusat Presiden RI Prabowo Subianto lakukan secara virtual dari Istana Merdeka, Jakarta.
Secara keseluruhan, TNI-Polri membangun 3.395 jembatan dan 3.000 sumber air bersih baru di berbagai wilayah Indonesia.
Achiruddin menjelaskan, sebelum jembatan permanen dibangun, Desa Kadirejo dan Desa Semowo hanya terhubung oleh jembatan darurat berbahan bambu.
Kondisinya sudah tidak layak dan membahayakan warga yang melintas. Kini, jembatan gantung baru yang lebih representatif membuat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat menjadi lebih aman dan nyaman.
“Intinya, TNI bersama-sama dengan Polri dan pemerintah daerah hadir untuk membantu mengatasi kesulitan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat yang ada di Desa Kadirejo dan Desa Semowo,” tegasnya.
Manfaat jembatan tersebut juga terasa langsung oleh warga. Mukaromah (50), warga Dusun Demangan, Desa Kadirejo, mengatakan keberadaan jembatan sangat membantu aktivitas sehari-hari masyarakat.
Sebelum jembatan dibangun, warga yang hendak mengakses layanan kesehatan harus melewati jalur lain dengan jarak yang lebih jauh. Kondisi tersebut cukup menyulitkan karena wilayah dusun berada di kawasan pelosok.





