Pendidikan

Alarm Bahaya untuk Orang Tua! Radikalisme Kini Menyusup Lewat Game dan Media Sosial

×

Alarm Bahaya untuk Orang Tua! Radikalisme Kini Menyusup Lewat Game dan Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Alarm Bahaya untuk Orang Tua! Radikalisme Kini Menyusup Lewat Game dan Media Sosial
Sosialisasi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme melalui Pendekatan Keluarga yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

“Ancaman ekstremisme saat ini sangat nyata. Penyebarannya luas melalui internet. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga harus membangun kedekatan emosional dengan anak,” kata Hadi.

Ia mengingatkan bahwa komunikasi yang terbuka dan hangat di lingkungan keluarga menjadi kunci utama untuk mendeteksi perubahan perilaku anak sejak dini.

“Tanamkan nilai agama yang damai, rasa cinta tanah air, dan kebiasaan berdialog di rumah. Anak yang merasa diperhatikan biasanya tidak mudah mencari pengakuan dari kelompok lain yang berpotensi memberikan pengaruh negatif,” ujarnya.

Hadi juga membagikan pengalaman pribadinya saat pernah terpapar paham radikal. Ia mengaku dukungan dan penerimaan keluarga menjadi faktor terbesar yang membantunya kembali ke kehidupan normal.

“Yang membuat saya kembali adalah keluarga. Dukungan keluarga dan lingkungan yang menerima membuat saya bisa bangkit dan menjalani kehidupan seperti biasa,” tuturnya.

Perempuan dan Anak Rentan Masuk Paham Ekstrimisme

Sementara itu, Kepala DP3A Kota Semarang, Eko Krisnarto menegaskan bahwa perempuan dan anak masih menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk penyebaran paham ekstremisme.

Menurut Eko, Pemerintah Kota Semarang telah memiliki Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 48 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme.

“Peraturan ini bukan sekadar dokumen hukum, tetapi menjadi komitmen bersama untuk menjaga keamanan, kedamaian, dan masa depan generasi muda Kota Semarang,” katanya.

Ia menambahkan, keluarga harus menjadi benteng pertama dalam membangun karakter anak melalui pendidikan toleransi, literasi digital, dan pengawasan penggunaan media sosial.

“Kita semua memiliki tanggung jawab menjaga masa depan anak-anak. Karena itu keluarga harus menjadi ruang yang aman untuk tumbuh, belajar, dan membangun nilai-nilai kebangsaan,” tegas Eko.

DP3A juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai perubahan perilaku anak. Seperti menjadi tertutup, mudah marah, membenci kelompok tertentu, atau aktif mengikuti komunitas digital yang bersifat eksklusif dan tertutup. (*)

Editor: Elly Amaliyah