Jateng

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 di Candi Gedongsongo, Semangat Merawat dan Melestarikan Bumi

×

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 di Candi Gedongsongo, Semangat Merawat dan Melestarikan Bumi

Sebarkan artikel ini
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 bernuansa budaya berjalan di kompleks Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 bernuansa budaya berjalan di kompleks Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 bernuansa budaya berjalan di kompleks Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Ratusan perserta upacara yang terdiri dari pelaku seni budaya, komunitas pecinta dan pemerhati lingkungan, masyarakat adat hingga warga sekitar mengikuti kegiatan upacara itu.

Rangkaian kegiatan mulai dengan kirab iring- iringan sembilan air suci. Di mana belasan remaja perempuan bawa bersama seluruh peserta, menuju pelataran Candi 4 Gedongsongo yang menjadi lokasi upacara.

Nuansa tradisional semakin kental. Hampir semua peserta upacara mengenakan berbagai ragam busana serta pakaian tradisional yang bernuansa Jawa.

BACA JUGA: Jadwal Operasi Patuh Candi, Polisi Sasar Pengendara Lawan Arah hingga ‘Cengtri’!

Merawat bumi pertiwi dan menjaga keberlanjutan lingkungan dengan kearifan lokal menjadi tema besar dari kegiatan tersebut. Selain upacara, dalam kegiatan tersebut juga terdapat doa lintas iman dan sumpah bumi.

Bendera Merah Putih sepanjang 1 kilometer mengelilingi kompleks Candi 4 Gedongsongo yang berada di ketinggian 1.200 mdpl tersebut.

Salah satu perwakilan komunitas masyarakat adat, Sang Edo mengatakan, Candi Gedongsongo identik dengan Gunung Ungaran. Kegiatan ini ada untuk mengedukasi, memberikan contoh, dan pemahaman kepada generasi penerus bangsa atau generasi masa depan.

“Melestarikan Gunung Ungaran dari berbagai kerusakan, berarti juga menjaga cagar budaya menjadi warisan para leluhur,” katanya.

Proyek Geothermal

Dia mengatakan, merawat bumi, alam, kearifan lokal dan kelestarian cagar budaya, sudah semestinya ada. Kegiatan yang mengancam serta bisa merusak harus dihindari.

“Pesan- pesan itu yang ingin kami sampaikan. Untuk proyek geothermal sekiranya bisa dipertimbangkan kembali dan pemerintah juga bisa mencari solusi yang terbaik demi alam yang kita cintai ini,” katanya.

BACA JUGA: Tolak Proyek Geothermal Gunung Ungaran, Massa Barmas Dapat Ruang Aspirasi dengan Bupati Ngesti Nugraha

Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening mengapresiasi kepedulian dan perhatian oleh masyarakat budaya, pelaku seni san pemerhati lingkungan.