Sedangkan untuk penggarapan videoklipnya dilakukan oleh Rio Soekamplenk sebagai Director of Photography, Rajas Angkasa sebagai editor, tim artistik audio visual Prima Founder Records, dan Executive Producer oleh Maya Sari Devi.
Lebih lanjut AM Kuncoro menjelaskan, meskipun saat ini ia berdomisili di Yogyakarta, namun kecintaannya pada keindahan alam di seluruh nusantara menggugah semangatnya untuk mengangkatnya dalam karya-karya lagu.
AM Kuncoro yang akrab dipanggil dengan nama AMK berprinsip, sebagai bangsa Indonesia kita harus mengenal semua wilayah nusantara dan bangga dengan keindahan alam dan budayanya. Kebanggaan tersebut harus diwujudkan secara produktif, tanpa batas, tanpa harus merusak kekayaan alam, karena kekayaan alam dapat dikemas dengan kreatif untuk menghasilkan karya yang tak pernah habis.
“Menjual kekayaan alam tanpa mengambil barang apapun dari alam, itu istilah saya. Semisal dengan menjual nilai sejarah, seni budaya, maupun tradisi lokal. Juga bisa berupa mitos, cerita nenek moyang, dongeng, dan lainnya yang bisa memberi nilai lebih untuk dijual,” kata AM Kuncoro yang senang berpetualang dan jalan-jalan.
Ketika ditanya mengenai alasan dalam penentuan judul-judul lagu pada Trilogi Tapal Kuda, AM Kuncoro mengatakan adalah bagian dari proses kreatifnya bersama Tim Prima Founder Records. Trilogi Tapal Kuda punya sebuah alur cerita romantis yang terkandung di ketiga lagunya.
Dua dari tiga lagu yang ada dalam Trilogi Tapal Kuda settingan syutingnya di Taman Nasional Baluran. Lokasi tersebut memiliki beragam lokasi menarik yang belum terekspos secara maksimal, seperti; Gua Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Manting, Dermaga, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Talpat, Kacip, Bilik, Sejileh, Teluk Air Tawar, Batu Numpuk, dan Pandean (Candi Bang).
“Ini baru Baluran saja, padahal Tapal Kuda masih memiliki banyak daerah lainnya yang memiliki keistimewaannya masing-masing. Misalnya Bondowoso dengan sebutan Kota Tape, Jember yang menjadi produsen cerutu terbaik di dunia, Probolinggo yang terkenal dengan keindahan Gunung Bromo dengan keunikan budaya suku Tengger yang mendiaminya,” kata AM Kuncoro.





