SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah memastikan akan memperketat pengawasan di pintu masuk wilayah, khususnya bandara dan pelabuhan, menyusul penangkapan dua warga Jawa Tengah di Laos karena kasus narkoba. Terlebih, status Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sudah kembali menjadi internasional.
Kepala BNNP Jawa Tengah, Toton Rasyid, menegaskan informasi penangkapan Warga Negara Indonesia (WNI) di Laos tersebut merupakan data yang valid dan bersumber dari Kementerian Luar Negeri serta KBRI Vientiane.
Toton menjelaskan, Jawa Tengah selama ini lebih banyak menjadi wilayah lintasan peredaran narkotika, bukan daerah tujuan. Karena itu, penguatan pengawasan menjadi langkah utama untuk mencegah masuknya jaringan narkoba ke wilayah Jawa Tengah.
“Informasi itu valid karena memang dari Kementerian Luar Negeri, dari KBRI Vientiane. Kita ketahui narkoba itu banyak, khususnya di Jawa Tengah, itu menjadi daerah lintasan, bukan menjadi daerah tujuan,” ujar Toton saat beritajateng.tv temui di kantornya, belum lama ini.
BACA JUGA: Ketahuan Edarkan Narkoba, 2 Warga Jawa Tengah Tertangkap di Laos: Tergiur Kerja Mudah-Gaji Tinggi
Menurut Toton, penguatan pengawasan tersebut melalui kolaborasi lintasinstansi. Ia menyebut Bea Cukai, Polda Jawa Tengah, serta TNI turut pihaknya libatkan secara aktif dalam upaya pencegahan.
Toton menambahkan, BNNP Jawa Tengah telah membentuk tim khusus yang mulai bekerja menjelang akhir tahun. Sejumlah personel juga telah ditempatkan di titik-titik strategis.
“Tentunya dengan Kepolisian Daerah dan kami juga berharap teman-teman dari TNI terlibat aktif. Kami sudah menempatkan anggota personel di pelabuhan maupun di bandara,” ungkap Toton.
Langkah tersebut, kata dia, menjadi krusial seiring kembali beroperasinya penerbangan internasional di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang.
BNNP Jateng Ungkap Modus Baru yang Jerat WNI, Iming-iming Pekerjaan hingga Mengawini
Selain penguatan pengawasan, Toton menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mencegah kasus serupa terulang. Ia mengakui, upaya edukasi bukan perkara mudah karena harus menjangkau hingga tingkat desa.
“Yang penting itu kita edukasi dulu. Jangan teriming-iming dengan upah yang tinggi dan sebagainya. Ini perjuangan yang berat karena kita harus masuk ke masyarakat, ke desa-desa,” jelasnya.
Menurut Toton, BNNP tidak mungkin memantau seluruh pergerakan masyarakat dari hari ke hari. Karena itu, langkah paling realistis yakni mempercepat penyebaran informasi agar jaringan narkotika tidak gampang memanfaatkan masyarakat.
“Yang bisa kita lakukan secepat-cepatnya adalah menyampaikan edukasi dan informasi bahwa masyarakat ini dimanfaatkan, kadang-kadang dengan pekerjaan,” katanya.
BACA JUGA: BNNP Jateng Minta Warga Waspada Vape atau Rokok Elektrik: Ada Indikasi Cairan Mengandung Narkoba
Dalam evaluasi kasus-kasus yang ada, Toton juga mengungkap adanya modus lain yang jaringan narkoba gunakan, yakni dengan cara menikahi warga negara asing sebagai perantara.
“Malah ada yang modusnya mengawini. Dikawini dengan warga negara luar, kemudian dijadikan agen untuk mengantarkan narkotika ke dalam negeri maupun ke luar,” ungkap Toton.
Ia berharap, informasi tersebut dapat menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan maupun hubungan yang berpotensi dimanfaatkan jaringan narkoba. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





