Said Abdullah lebih memilih untuk memberikan solusi dengan memperbaiki mekanisme distribusi MBG ketimbang menghentikan program tersebut.
Ia menyoroti masalah jumlah porsi yang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sediakan. Yang di sebutnya terlalu besar, yaitu 3.000 porsi per unit.
“1 SPPG melayani 3.000, apakah itu bisa diperpendek? 1 SPPG cukup 1.500, sehingga menu Makan Bergizi Gratis yang sampai di sekolah itu masih fresh from the oven,” ujar Said, yang mengusulkan agar jumlah porsi per SPPG dikurangi agar makanan yang sampai ke sekolah tetap segar dan terjamin kualitasnya.
BACA JUGA: Ramai TNI Terlibat MBG di Blora, Anggota Komisi II DPR RI: Bukan Waktunya Lagi Perang Konvensional
Namun, meski ada solusi yang terusulkan, banyak pihak merasa langkah ini tidak cukup cepat.
Beberapa orang tua dan masyarakat merasa cemas karena kualitas makanan untuk banak-anak mereka terbilang sangat buruk, dan bahkan berisiko bagi kesehatan. (*)
Editor: Farah Nazila





