Jateng

Bara Puan Minta Program MBG Berhenti, Banyak Kasus Keracunan dan Evaluasi Tak Pernah Tuntas

×

Bara Puan Minta Program MBG Berhenti, Banyak Kasus Keracunan dan Evaluasi Tak Pernah Tuntas

Sebarkan artikel ini
MBG Bara Puan
Perwakilan Komunitas Bara Puan, Tuti Wijaya, saat dijumpai dalam aksi Dapur Umum Banget di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa, 23 Juni 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Harusnya kalau memang itu 𝖽igodok dengan benar-benar, pengelolaan MBG dan pengelolaan ini harus melibatkan masyarakat itu sendiri. Bukan melibatkan mereka yang berasal dari mereka,” lanjut Tuti.

Ia menambahkan, kelompok perempuan seharusnya turut 𝖽ilibatkan dalam perumusan maupun pelaksanaan program karena mereka menjadi pihak yang paling dekat dengan kebutuhan gizi anak.

“Ketika MBG ini berjalan harusnya juga melibatkan kelompok-kelompok perempuan. Bagaimana anak-anak mereka yang 𝖽ikasih makan MBG juga mau tidak mau 𝖽ipelihara atau berasal dari orang tua yang menyayangi mereka dengan sepenuh hati,” katanya.

Singgung Kasus Keracunan dan Dugaan Korupsi MBG

Dalam kesempatan itu, Tuti juga menyoroti sejumlah persoalan yang sempat mencuat selama pelaksanaan MBG, termasuk kasus keracunan yang terjadi di berbagai daerah.

Ia menilai berbagai kejadian tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah.

“Ya, saya kira banyak sekali kasus keracunan MBG. Bahkan di Tegal, saya dengar, saya baca berita di Tegal dan di beberapa wilayah juga sudah,” ujarnya.

Namun menurutnya, hingga kini belum terlihat evaluasi yang terbuka terkait jumlah korban maupun persoalan lain yang muncul selama pelaksanaan program.

BACA JUGA: Gelar Diskusi bareng Mahasiswa, Komunitas Bara Puan Kampanyekan 16 HAKTP

“Tapi itu enggak pernah mendapatkan evaluasi, misalnya berapa anak korban MBG, terus berapa orang juga melakukan korupsi dan lain sebagainya. Itu juga harusnya jadi evaluasi, tapi sampai sekarang enggak pernah ada evaluasi itu,” lanjutnya.

Tuti mengatakan keresahan tersebut yang kemudian mendorong sejumlah jaringan masyarakat sipil, mahasiswa, hingga kelompok perempuan bergabung dalam Bara Puan.

“Kami sebenarnya berasal dari teman-teman jaringan. Baik mahasiswa, lembaga, organisasi-organisasi yang mendukung kelompok-kelompok perempuan,” katanya.

Libur Sekolah Harus jadi Momentum Evaluasi MBG

Tuti juga menanggapi penghentian sementara MBG selama masa libur sekolah. Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya 𝖽imanfaatkan pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program.