SEMARANG, beritajateng.tv – Menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret, Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) Semarang menggelar Bazar Preloved Sintas di kantor LRC-KJHAM, Jalan Kauman Raya No. 61A, Palebon, Pedurungan, Kota Semarang.
Bazar ini sebagai bentuk kampanye solidaritas sekaligus penggalangan dukungan bagi penyintas kekerasan terhadap perempuan.
Quality Development LRC-KJHAM, Nur Laila Hafidhoh, menjelaskan bahwa bazar preloved ini berangkat dari meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan yang lembaganya tangani.
“Dalam momen menjelang kampanye Hari Perempuan Internasional 8 Maret, kami memang ada beberapa agenda, salah satunya bazar preloved sintas. Ini sebenarnya berawal dari situasi kasus kekerasan terhadap perempuan yang dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan,” ujarnya pada Jumat, 6 Maret 2026.
Bazar ini dilatarbelakangi oleh jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Semarang dan sekitarnya terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
BACA JUGA: Tekan Kekerasan dan Gangguan Mental, DP3A Semarang Kolaborasi dengan UPGRIS
Selain tingginya angka kasus, korban juga menghadapi berbagai hambatan ketika mencoba mencari keadilan. Mulai dari stigma masyarakat, kurangnya dukungan keluarga, hingga layanan yang belum sepenuhnya ditanggung pemerintah.
“Masih ada layanan yang tidak pemerintah biayai. Misalnya pengalaman kami, pemeriksaan kehamilan korban itu tidak di – cover. Bahkan masih ada korban yang harus membayar biaya visum,” jelasnya.
Proses hukum juga sering kali menjadi tantangan besar karena memakan waktu lama dan biaya tambahan bagi korban.
Bazar Preloved Jadi Strategi Bertahan
Situasi tersebut membuat lembaga pendamping korban seperti LRC-KJHAM harus mencari cara agar tetap bisa memberikan layanan. Salah satunya melalui program Bazar Preloved Sintas, yaitu penjualan pakaian bekas layak pakai untuk menggalang dukungan bagi kerja pendampingan korban.
Program ini mulai dikembangkan sejak 2021 saat pandemi Covid-19, ketika banyak donasi pakaian yang terkumpul namun tidak seluruhnya tersalurkan.





