Jateng

BBM Naik Ancam Distribusi Pangan, Distanak Pastikan Jateng Surplus 494 Ribu Ton Daging Ayam

×

BBM Naik Ancam Distribusi Pangan, Distanak Pastikan Jateng Surplus 494 Ribu Ton Daging Ayam

Sebarkan artikel ini
daging sapi
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, saat dijumpai di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berpotensi menambah biaya ԁistribusi bahan pangan di Jawa Tengah, termasuk komoditas peternakan seperti daging ayam dan telur.

Meski demikian, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah memastikan ketersediaan daging ayam di provinsi ini masih berada dalam kondisi aman. Bahkan, produksi daging ayam ras tahun 2026 ԁiperkirakan jauh melampaui kebutuhan masyarakat.

Kepala Distanak Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengungkap produksi daging ayam ras di Jawa Tengah tahun ini ԁiproyeksikan mencapai lebih dari satu juta ton.

BACA JUGA: Ribuan Dapur MBG Belum Maksimal Serap Produk Lokal, Gus Yasin: Telur, Ayam, dan Ikan Wajib Beli dari Jateng

“Kalau dari data itu kan misalnya di Jawa Tengah itu potensi produksi untuk daging ayam ras tahun 2026 itu punya kita. Dari produksi kita itu kan untuk daging ayam ras, kami memperkirakan produksi kita akan 1.034.552 ton,” ujar Tavares saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, belum lama ini.

Sementara itu, kata Tavares, kebutuhan daging ayam masyarakat Jawa Tengah sepanjang tahun hanya berada pada kisaran 540.412 ton. Dengan kondisi tersebut, Tavares memastikan Jawa Tengah masih mencatat surplus daging ayam yang cukup besar.

“Kalau kebutuhan kita adalah 540.412 ton. Artinya kurang lebih hanya separuh kebutuhannya itu dari produksi kita. Maka kita punya neraca itu berarti surplus kita 494.140 ton,” kata Tavares.

Berbeda dengan Daging Ayam, Surplus Telur di Jateng Hanya 7 Ribu Ton

Berbeda dengan komoditas daging ayam, kondisi telur ayam ras di Jawa Tengah jauh lebih ketat. Produksi dan kebutuhan masyarakat tercatat hampir seimbang. Tavares menyebut produksi telur ayam ras di Jawa Tengah mencapai sekitar 938.219 ton per tahun.

Sementara itu, kata dia, kebutuhan telur masyarakat Jawa Tengah mencapai sekitar 931 ribu ton per tahun.

“Kalau telur kan produksinya hampir 938.219 ton. Kemudian kebutuhan juga cukup tinggi, hampir sama dengan produksi,” sambungnya.

Selisih antara produksi dan kebutuhan tersebut membuat surplus telur di Jawa Tengah relatif tipis ԁibandingkan komoditas daging ayam. “Sehingga surplus kita hanya sedikit, kira-kira 7.116 ton dalam setahun,” jelas Defransisco.

BACA JUGA: Over Supply, Harga Ayam Hidup Jatuh hingga Rp11.000, Peternak Rakyat Tertekan

Menurutnya, angka tersebut masih berpotensi berubah seiring berkembangnya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini terus pemerintah perluas.

Pasalnya, hingga kini pemerintah masih menghitung pola penyerapan telur dan komoditas peternakan lain untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di berbagai daerah.

“Ini kita belum final mendapatkan apakah kebutuhan di MBG itu akan ԁilakukan misalnya pengambilan dari peternak itu setiap hari, berapa jumlahnya, dan sebagainya,” katanya.

Tavares menambahkan, pemerintah masih memetakan rantai pasok peternak untuk memastikan kebutuhan MBG dapat terpenuhi tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat umum.

Kenaikan Harga BBM Berpotensi Menambah Biaya Distribusi

Selain menyoroti ketersediaan stok, Tavares mengakui kenaikan harga bahan bakar akan berpengaruh terhadap biaya distribusi produk peternakan.

Menurutnya, ongkos pengangkutan menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan harga pangan di tingkat konsumen.

“Kalau distribusi pasti berkaitan, kan? Pasti berkaitan. Naiknya harga itu pasti masuk dalam perhitungan distribusinya,” ujarnya.

Dampak tersebut akan semakin terasa apabila distribusi produk peternakan harus menempuh jarak yang lebih jauh, termasuk antarprovinsi.

“Apalagi kalau semakin jauh ya, misalnya dari jarak yang lain bisa antarprovinsi dan sebagainya,” kata Defransisco.

BACA JUGA: Pinsar: Program MBG Belum Berdampak Langsung pada Penyerapan Ayam Peternak Rakyat

Meski demikian, ia menilai ԁinamika harga juga sangat ԁipengaruhi oleh kondisi produksi di masing-masing daerah.

Sebagai contoh, Jawa Timur yang memiliki produksi peternakan tinggi cenderung memiliki harga komoditas yang lebih rendah ԁibanding daerah lain.

“Produksi di Jawa Timur kan justru juga tinggi juga. Produksinya luar biasa di Jawa Timur. Sehingga kalau ԁilihat dari pantauan harga kan kayaknya dia lebih rendah sedikit daripada harga di tempat lain,” terangnya.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan mekanisme pasar yang umum terjadi ketika pasokan berada dalam jumlah besar.

“Kalau fungsi ԁinamika pasar itu kalau produksi banyak kan otomatis harga akan sedikit ԁibanding di Jateng,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp