Pendidikan

Berbeda dengan Mendongeng, Begini Manfaat Read Aloud atau Membaca Nyaring

×

Berbeda dengan Mendongeng, Begini Manfaat Read Aloud atau Membaca Nyaring

Sebarkan artikel ini
Read Aloud Semarang
Para anggota Komunitas Read Aloud Semarang sedang mempraktikkan membaca nyaring. (dokumen pribadi)

SEMARANG, beritajateng.tv – Banyak yang menganggap read aloud atau membaca nyaring mirip atau bahkan sama dengan kegiatan mendongeng.

Namun siapa sangka, meski keduanya memiliki konsep dan tujuan yang sama, terdapat perbedaan mencolok antara mendongeng dan membaca nyaring.

“Konsepnya sama, tapi kalau read aloud menitikberatkan pada penggunaan buku. Karena konsepnya read aloud adalah mengenalkan dan menanamkan kecintaan anak terhadap buku itu sendiri,” jelas Unik Pratisi, Founder Komunitas Read Aloud Semarang, kepada beritajateng.tv usai mengisi talkshow di Perpustakaan Daerah Jateng, belum lama ini.

Unik melanjutkan, kegiatan mendongeng umumnya tidak menggunakan buku. Berbeda dengan membaca nyaring yang harus menampilkan buku yang bisa orang tua baca.

BACA JUGA: Mengenal Komunitas Read Aloud Semarang, Giat Kampanyekan Gerakan Membaca Nyaring

Selain itu, dongeng sendiri bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap cerita dan imajinasi. Sedangkan membaca nyaring lebih fokus kepada bukunya.

“Dongeng tanpa buku atau media teks apapun bisa. Kalau read aloud nggak bisa tanpa buku atau sesuatu yang bisa dibacakan kepada anak, itu perbedaan mendasarnya,” lanjutnya.

Meski begitu, Unik menganggap mendongeng dan membaca nyaring memiliki manfaatnya masing-masing.

Hanya saya, poin plus membaca nyaring daripada mendongeng adalah sarana mengenalkan buku. Dengan membacakan buku secara nyaring, orang tua bisa sekaligus mendongeng.

“Kalau kita hanya cinta pada ceritanya saja ya kita akan cinta pada cerita dan imajinasi yang terbentuk. Tapi ketika kita cinta pada buku, semua jenis cerita kita akan menyukainya,” tutur Unik.

Read aloud bikin anak lebih responsif dan percaya diri

Unik juga menyoroti banyaknya orang tua yang memberikan gadget kepada anak-anak. Menurutnya, meski memiliki manfaat positif, namun memberikan gadget kepada anak memiliki lebih banyak sisi negatif.

“Sekarang banyak yang suka gadget, dari segi anak-anak tentu banyak negatifnya kan. Akhirnya kenapa kita nggak alihkan anak-anak ke hal yang menyenangkan, misalnya buku,” ucapnya.

BACA JUGA: Berawal dari Cuitan Twitter, Komunitas Bookclub Semarang Kini Punya 700 Anggota