Pendidikan

BINUS Semarang Manfaatkan AI Cetak Peluang Bagi Mahasiswa di Era Digital

×

BINUS Semarang Manfaatkan AI Cetak Peluang Bagi Mahasiswa di Era Digital

Sebarkan artikel ini
BINUS Semarang Manfaatkan AI Cetak Peluang Bagi Mahasiswa di Era Digital
Foto bersama Rektor BINUS @Semarang dalam Media Gathering BINUS University Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

Fredy juga menyoroti tren global berupa kemunculan dark factory-pabrik berbasis otomasi robotik tanpa pencahayaan yang tinggi efisiensi.

“2025 ini dikatakan masuk dalam ekonomi gelap, tapi jangan di konotasikan sebagai hal yang negatif. Kita lihat Cina banyak pabrik gelap yang dibangun. Bukan berarti gelap negatif, tapi pabrik otomotif yang dikerjakan robot semua dan tanpa penerangan disebut dark factory. Nah, kami menyikapi hal ini dengan menyiapkan SDM yang siap dengan kemajuan teknologi,” jelasnya.

Tak hanya fokus pada penciptaan tenaga kerja, BINUS juga mendorong tumbuhnya jiwa wirausaha di kalangan mahasiswa.

“Binus tidak ingin menambah jumlah pengangguran. Sesuai komitmen dari pendiri Binus, kita ingin menciptakan intrepreneur, bukan yang kerja ikut orang,” ujar Fredy menegaskan.

Salah satu kekuatan dari sistem pendidikan BINUS adalah program Enrichment, yang memungkinkan mahasiswa memilih jalur pengembangan seperti magang industri, riset teknologi, pengabdian masyarakat, hingga kewirausahaan.

Pemanfaatan AI Bagi Mahasiswa

Renata Safa Syahbany Nugroho, mahasiswi Visual Communication Design, adalah contoh nyata dari hasil pendekatan ini.

Renata telah mengembangkan produk kecantikan Senara berbasis bahan alami, dengan memanfaatkan minyak atsiri lokal Indonesia.

“Saya belajar dari 17 permasalahan SDGs, yang menjadi masalah di seluruh dunia. Dan saya belajar apa potensi tersebut. Saya melihat tanaman herbal bisa untuk kebutuhan kita,” jelas Renata.

Ia juga menyebut bahwa AI turut membantunya dalam proses pengembangan produk maupun strategi bisnis.

Di bidang berbeda, Kornelia Keren, mahasiswi yang memanfaatkan Digital Business, berhasil merintis bisnis florist modern yang memadukan seni dan teknologi digital.

“Saya mulai bisnis dari tahun kemarin. Bisnis florist orang mengenal hanya papan bunga, dll. Tapi saya membuat yang berbeda, lebih dari rangkaian bunga yang ditancepin. Saya buat yang lebih seni, dan bisnis ini juga memiliki usia yang panjang. Orang akan terus butuh,” katanya.

Dengan bekal keahlian digital dan analisis data yang diperoleh selama kuliah, Kornelia mampu mengidentifikasi kebutuhan pasar, menyesuaikan strategi pemasaran, dan mengantisipasi risiko bisnis.