“Terus untuk irigasi alternatif itu 75 unit di 15 kabupaten. Ini ԁiidentifikasi di daerah-daerah yang kemungkinan airnya kurang dan juga jaringannya rusak,” jelasnya.
BACA JUGA: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, BPBD Kabupaten Semarang Siapkan 150 Tangki Air
Sementara itu, bantuan dari pemerintah pusat juga mencakup ribuan unit irigasi perpompaan dan perpipaan yang tersebar di puluhan kabupaten/kota di Jawa Tengah.
“Kemudian ada juga irigasi perpompaan dari kementerian itu cukup banyak, 1.823 unit di 30 kabupaten. Irigasi perpipaan 366 unit di 26 kabupaten. Terus ada bangunan konservasi 220 unit,” kata Defransisco.
Ia berharap berbagai bantuan tersebut dapat memperkuat kesiapan daerah menghadapi musim tanam kedua di tengah ancaman kemarau panjang.
“Jadi ini dari APBN dan APBD untuk mendukung supaya memasuki musim tanam kedua ini lebih siap aliran airnya,” lanjutnya.
Puncak Kekeringan Ꭰiprediksi Terjadi Agustus hingga September
Lebih jauh, Defransisco mengakui ancaman terbesar sektor pertanian tahun ini kemungkinan muncul saat memasuki Agustus hingga September, ketika pasokan air mulai menurun drastis.
Meski demikian, ia memastikan Ꭰistanak Jawa Tengah akan terus mengejar berbagai langkah antisipasi agar produksi pangan tidak turun signifikan.
“Kalau produksinya paling tinggi itu akan kurang air sama sekali itu antara bulan Agustus sampai September,” ujarnya.
Menurutnya, prediksi penurunan luas tanam justru menjadi dasar bagi pemerintah untuk mempercepat intervensi bantuan di wilayah rawan kekeringan.
BACA JUGA: Antisipasi Kemarau Ekstrem, Damkar Semarang: Kebakaran Ilalang Jadi Ancaman Besar
“Dan justru itu yang harus kita kejar. Justru saat ԁibilang kurang itulah yang berarti kita cari di mana kurangnya, dan itu kita push bantuan segala macam, sumber air dan sebagainya,” kata Defransisco.
Ia mengatakan beberapa daerah kini mulai memanfaatkan sumber air sungai dengan sistem pompa untuk mengairi lahan pertanian yang berada jauh dari saluran utama.





