FeatureHeadline

Bukan Mbak Rara, Ini Mas Menthek Pawang Hujan Semarang yang Laris Orderan Kampanye Terbuka Pilpres

×

Bukan Mbak Rara, Ini Mas Menthek Pawang Hujan Semarang yang Laris Orderan Kampanye Terbuka Pilpres

Sebarkan artikel ini
pawang hujan semarang
Pawang hujan Semarang, Santoso Joko Purnomo atau Joko Menthek saat ditemui di daerah Kedungmundu, Kota Semarang, Selasa 30 Januari 2024. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Masa kampanye terbuka Pemilu 2024 membuat pasangan calon maupun partai politik menggelar banyak acara yang mengundang massa. Namun menyelenggarakan acara saat musim hujan tentu bukan tanpa resiko. Pawang hujan menjadi sosok penting di belakang layar pagelaran besar. Profesi itu mungkin sudah banyak diketahui oleh publik, namun kiranya masih sedikit yang tahu betul bagaimana seorang pawang hujan Semarang bekerja.

Pawang hujan Semarang, Santoso Joko Purnomo atau Joko Menthek bercerita ia mendapatkan banyak job saat musim kampanye tahun ini. Menthek menceritakan baru saja menjadi pawang hujan kampanye terbuka Prabowo-Gibran di Lapangan Simpang Lima Semarang, Minggu 28 Januari 2024 lalu.

BACA JUGA: Datangi TKP Kasus Subang, Ini Fakta-fakta Rara Pawang Hujan yang Sempat Viral

“Harusnya Kota Semarang, apalagi Simpang Lima itu hujan dari pagi sampai sore. Jadi hujannya saya pindahkan ke wilayah sekitarnya seperti Tembalang dan area lainnya,” ujar pawang hujan Semarang Joko Menthek, Selasa 30 Januari 2024.

Joko menuturkan, Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran hingga relawan memintanya bekerja sejak sehari sebelum acara berlangsung.

“Kerjanya (waktu kampanye Prabowo-Gibran di Simpang Lima) itu dari sehari sebelumnya, kan timnya harus loading barang juga. Apalagi kemarin malam sebelum hari-H itu jatahnya hujan kan, makanya saya dipanggil juga H-1 acara,” katanya.

Pawang hujan Semarang dapat bonus dari Tim Prabowo-Gibran

Setelah acara berjalan sukses tanpa adanya hujan deras, ia mengaku mendapat bonus dari Tim Prabowo-Gibran melebihi tarif yang ia patok.

“Untuk seluruh acara di Kota Semarang, biasanya saya patok Rp 1,5 juta per harinya. Kalau luar Kota Semarang itu Rp 2,5 juta. Tetapi karena kemarin acaranya berhasil, tim Prabowo-Gibran kasih saya bonus yang lumayan lah,” terangnya.

Menurutnya, tak sulit untuk memindahkan hujan ketika acara kampanye akbar Prabowo-Gibran itu berlangsung. Sebab, ia merasa masih ada wilayah sekitar Semarang yang intensitas hujannya tak terlalu lebat atau tak tersentuh hujan.

Sebagai pawang hujan Semarang, ia tetap percaya bahwa hujan tetap menjadi kehendak Tuhan. Hal itu terucap olehnya saat ditanya bagaimana caranya agar hujan tak turun demi kelangsungan acara besar.

BACA JUGA: Ada Pawang Hujan Saat Parade Barongan di Alun Alun Blora

Joko menepis ia membawa kelengkapan spiritual seperti dupa, bunga, dan air suci. Alih-alih membawa hal itu, ia menuturkan hanya bermodalkan dua material saja.

“Saya hanya merokok dan membawa air mineral di kantong celana saya, karena saya tidak bisa kalau tidak merokok,” bebernya.

Berjalan kaki menyusuri jalanan Simpang Lima kurang lebih tiga kali, cara mencegah hujan itu ia lakoni tanpa lelah. Sambil mengucap doa kepada Allah SWT, ia memohon agar hujan tak turun selama acara kampanye Prabowo-Gibran berlangsung.

“Sebenarnya pawang hujan itu tidak memindahkan hujan, tetapi memindahkan arah angin ke wilayah sekitarnya. Tidak ada itu saya bawa dupa, bunga, atau air khusus, saya hanya merokok dan berjalan sepanjang Simpang Lima, berdoa kepada Allah agar hujan tidak turun saja,” tandasnya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp