SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bergerak melakukan penanganan tanggul jebol serta jalan amblas di perkampungan di Jembawan I, Kalibanteng Kulon Semarang Barat. Salah satunya dengan mencari penyebab jebolnya tanggul Sungai Silandak.
Penanganan berjalan lintas dinas seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Perkim, Dinas Perikanan serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Tanggul yang jebol memiliki panjang sekitar 41 meter, sementara tanah yang ambles kurang lebih setinggi dua meter.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), Murni Ediati mengatakan, dari hasil survei mendapati adanya penurunan jalan sepanjang 41 meter lantaran kondisi tanggul Sungai Silandak yang mengalami kemiringan dan rembesan.
“Aliran air yang menggerus pondasi talud menyebabkan tanah di bawah badan jalan ikut tertarik, sehingga memicu amblas,” kata Pipie, sapaan akrabnya.
Dia menjelaskan, penanganan pemkot lakukan secara komperhensif, misalnya perbaikan tanggul yang harus berjalan terlebih dulu, sebelum perbaikan tanah.
Perbaikan tanggul akan BBWS dan DPU lakukan, sementara Perkim akan melanjutkan dengan perbaikan badan jalan.
BACA JUGA: Tanggul dan Jalan di Kalibanteng Kulon Ambles, Warga Menduga Ulah Ikan Sapu-sapu Rusak Talud
“Kami terus berkomunikasi dengan BBWS agar penanganan talud dapat segera terlaksana. Setelah itu, kami siap menindaklanjuti dengan perbaikan aspal jalan demi kenyamanan dan keselamatan warga,”ujarnya.
Sementara Dinas Perikanan Kota Semarang, juga turun ke lapangan Kamis petang, 7 Mei 2026. Menyelidiki dugaan warga yang menyebut jika faktor penyebab jebolnya tanggul lantaran populasi ikan sapu-sapu.
Ikan tersebut kuat dugaan melubangi tanggul, dan masuk ke dalam tanah sehingga membuat tanggul menjadi rapuh hingga akhirnya retak. Sehingga membuat amblas badan jalan dan mengancam empat rumah milik warga.
“Kita sudah kirimkan tim kesana, untuk melihat populasi ikan sapu-sapu di Sungai Silandak,” kata Kepala Dinas Perikanan, Soenarto.
Menurut pantauan yang ada, memang terdapat ikan sapu-sapu di sungai tersebut, dan sekitarnya tanggul yang jebol. Namun populasi ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini masih terkontrol dan belum mengkhawatirkan (over populasi) seperti di Jakarta.
“Memang ada, tapi belum over populasi,” ujarnya.
Akibat Sungai Berkelok
Kabid Pengelolaan Pembudidayaan Ikan, Dinas Perikanan Kota Semarang, Rita Muflikatun Nu’amah menambahkan, jebolnya tanggul terjadi karena gerakan arus sungai yang berbelok hingga menyebabkan rongga di titik jebolan tanggul serta badan jalan yang amblas .
“Air sungai di situ muter dan menggerus tanah di bawah tanggul, hingga akhirnya jebol dan tanahnya ambles,” tambahnya
Jika melihat luasan dan lebar sungai, serta populasi ikan sapu-sapu yang ada, menurutnya belum begitu membahayakan dan balum masuk kategori over populasi.
Dari keterangan warga kata dia, saat curah hujan tinggi air di Sungai Silandak pun cukup kencang, karena memiliki hulu di daerah Pasadena dan Babankerep Ngaliyan
“Memang ada ikan sapu-sapu di sana, tapi belum dalam kategori membahayakan jika melihat kondisi Sungai Silandak. Condongnya kerusakan tanggul karena aliran sungai yang kencang,” bebernya.
Anggota DPRD Kota Semarang, Joko Susilo, meminta Pemkot Semarang untuk memperbaiki tanggul yang jebol.
Apalagi kondisi tanggul lebih tinggi jika ia bandingkan area perkampungan, yang dikhawatirkan semakin parah karena curah hujan akhir-akhir ini masih cukup tinggi.
“Kalau belum ada perbaikan, nanti air akan masuk ke perkampungan. Yang terimbas pasti satu RW disana,” ujarnya.
Politikus PDI-Perjuangan ini menilai aliran Sungai Silandak yang Berbelok, membuat tanggul rusak dan ambles karena ada perputaran air di bawah tanggul. Terlebih, bangunan tanggul yang roboh kemarin usianya cukup tua.
“Usianya tanggul juga sudah tua, kalau nggak salah dibangun sejak tahun 1981 lalu, jadi memang rawan jebol,” bebernya. (*)





