Sehingga, warga yang pagi-pagi berangkat ke pasar maupun anak-anak muda di malam hari takut keluar rumah lantaran gelap. Namun, setelah terpasang OMSET Pintar ini, warga jadi tidak takut gelap lagi.
“Warga Gempolrejo itu kan kebanyakan petani tebu, jadi sepanjang jalan desa menuju kota, kanan-kiri tertutup tebu dan gelap. Setelah kepala desa memasang alat ini jadi terang,” kata Paiman, salah satu warga setempat.
Alasan penamaan Omah Setrum Pintar
Noer Chanief memberi nama alat ini Omah Setrum Pintar karena ada makna tersediri yaitu “Omah” dalam bahasa Jawa artinya rumah dan “Setrum” merupakan serapan dari bahasa Belanda yang berarti aliran listrik.
Omah Setrum ini ia sebut “Pintar” karena inovasi ini menggabungkan dua sumber energi yaitu angin dan surya. Inovasi ini juga memiliki sensor yang akan membuat listrik mengalir saat keadaan gelap, dan akan padam ketika keadaan terang.
OMSET Pintar ini terdiri dari beberapa komponen utama, di antaranya:
– Turbin angin, berfungsi sebagai media kinetik dari angin;
– Panel surya, berfungsi untuk mengubah energi surya menjadi energi listrik;
– Transmisi gear, berfungsi untuk mengubah putaran rendah menjadi putaran tinggi;
– Generator, berfungsi untuk mengonversi energi mekanik menjadi energi listrik;
– Baterai, berfungsi untuk menyimpan energi listrik;
– Inverter, berfungsi untuk mengonversi tegangan DC menjadi tegangan AC;
– Tower, berfungsi sebagai penyangga dari seluruh komponen.
Pemasangan OMSET Pintar, termasuk kerangka besinya, hanya perlu lahan seluas 4 m² dan bertopang dengan cor beton. Kemudian, penempatan OMSET Pintar ini yaitu di ruang terbuka, tanpa ada gangguan pada jalur angin dan matahari.
BACA JUGA: Targetkan Emisi Nol Karbon pada 2060, Pemerintah Pertimbangkan Hidrogen dalam Transisi Energi Bersih





